Deputi Kepemudaan Asrorun Niam Ajak Pemuda Bangkit Lawan Terorisme

Deputi Kepemudaan Asrorun Niam Ajak Pemuda Bangkit Lawan Terorisme

47
0

JAKARTA – Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga Asrorun Niam Sholeh mengajak para pemuda di Indonesia bangkit melawan terorisme dan radikalisme. Ini menyusul munculnya aksi terorisme yang terjadi di sejumlah tempat belakangan ini.

“Salah satu caranya dengan memperkuat pemahaman keagamaan moderat di kalangan pemuda dan mahasiswa. Mahasiswa perlu dibidik mengingat mereka yang mudah terkena paham radikal cukup banyak akibat kondisi yang labil,” kata Asrorun Ni’am saat menjadi narasumber pada diskusi dengan tema “Saatnya Pemuda Bangkit Melawan Radikalisme” di Media Center Kemenpora, Jakarta, Selasa sore (22/5).

Menurut Ni’am, berdasarkan data yang dihimpun pada 2016 dari BNPT, pelaku tindak terorisme 16,4 persen di antaranya berlatar belakang mahasiswa.

“Ini usia kita banget dan jadi PR kita bersama. Pendekatan penanganan kasus terorisme terhadap usia muda tidak cukup dengan pendekatan punitif, penghukuman atau pembalasan, tapi bagaimana langkah restoratif dan pemulihan, penyadaran dilakukan,” tegasnya.

Selain Ni’am, pembicara lain pada diskusi tersebut adalah Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) Ali Muthohirin dan Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Muhammad Nur.

Peserta diskusi berasal dari sejumlah organisasi tingkat pemuda, antara lain seperti IPNU, IPPNU, PMII, HMI, PII, IPM, IMM, KOPRI PMII, BKPRMI, PMKRI dan GMKI.

Niam melanjutkan, mahasiswa rentan terkena paham radikal karena kondisinya labil yang sedang mencari jati diri. Mereka yang haus masalah keagamaan, rentan salah cari teman dan guru untuk menimba ilmu. Jika mendapat guru yang salah selama membimbingnya, itu bisa berbahaya lantaran dari situlah doktrin radikalisme bersemai.

“Jadi perlu penguatan pemahaman keagamaan yang moderat di kalangan mereka,” imbuh mantan aktifis mahasiswa 98 ini.

Untuk itulah, pihaknya akan konsern untuk menanggulangi agar paham radikal tak bersemai di kalangan pemuda Indonesia. Hal itu bisa dilakukan dengan cara pendidikan bela negara melalui apel kebangsaan dan kemah pemuda.

“Wawasan kebangsaan dan pendidikan bela negara perlu dikuatkan di kalangan pemuda seiring semakin longgarnya semangat kebangsaan akibat perubahan sosial yang begitu cepat. Ini menjawab dua masalah sekaligus, radikalisme dan liberalisme di kalangan muda. Akan tetapi, polanya harus dikemas dengan kekinian, sesuai dengan tren generasi millenial”, jelas dosen Pascasarjana UIN Jakarta ini.

Tak lupa, pihaknya juga siap memberikan dukungan fasilitasi kegiatan yang dilakukan organisasi kepemudaan (OKP) untuk menumbuhkembangkan pemahaman keagamaan yang moderat.

“Organisasi kepemudaan perlu hadir untuk memenuhi kebutuhan akan dahaga para pemuda dalam hal keagamaan. Perlu sajian menu keagamaan yang sesuai kebutuhan riil mereka, tapi dengan mengarusutamakan wasathiyyah”, tutupnya.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY