Dua Guru Besar Perempuan Dari Unair Bicara Soal Tantangan Perempuan Masa Kini

Dua Guru Besar Perempuan Dari Unair Bicara Soal Tantangan Perempuan Masa Kini

15
0
banner 300x250

SURAABAYA – Dua guru besar perempuan Universitas Airlangga (Unair) terlibat dalam diskusi bertema perempuan dalam acara Gelar Inovasi Guru Besar, Selasa (24/4/2018).

Ajang itu sekaligus untuk memperingati Hari Kartini.

Karenanya, peran wanita menjadi bahasan utama diskusi ini.

Dua guru besar itu adalah Prof Anis Eliyana yang merupakan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta Prof Emy Susanti, Guru Besar dari FISIP.

Wakil Ketua Pusat Informasi dan Humas (PIH) Unair, Imron Mawardi mewakili rektor dalam sambutannya menjelaskan, kini peran perempuan dalam berbagai ranah kehidupan begitu terlihat.

Yang terbaru, katanya, berdasarkan pengumuman hasil SNMPTN 2018, sebanyak 83,35 persen yang diterima kuliah di Unair adalah perempuan.

”Saat ini perempuan memang luar biasa. Kalau mengulasnya lagi, saat wisuda, wisudawan terbaik juga didominasi perempuan,” katanya.

Soal pemilihan tema tersebut, selain berkaitan dengan momentum Hari Kartini, laju perkembangan sosial kemasyarakatan yang begitu cepat turut memberikan dampak terhadap tema keperempuanan. Terutama berkaitan dengan kesamaan gender.

Karena itu, bahasan terkait perempuan selalu menarik dan penting. Khususnya dikaitkan dengan tema sosial dan ekonomi.

Dalam diskusi itu, Prof Anis membahas permasalah terkait dengan bidang ekonomi. Khususnya entrepreneur sebagai peran perempuan dalam era milenial.

Menurutnya kemunculan isu datangnya era revolusi industri 4.0 jangan menjadi ketakutan untuk perempuan. Justru hal itu mesti dimanfaatkan dengan baik.

”Mengingat, perkembangan e-commerce sebagai bagian dari revolusi indutri 4.0 di Indonesia tertinggi di dunia,” sebutnya.

Sementara Prof Emy membahas kembali tentang pokok pemikiran Kartini dalam mengangkat derajat perempuan.

Pemikiran itu terdiri dalam tiga pokok. Pertama, memerangi kebodohan, dengan cara sekolah, berpendidikan, dan memiliki ketrampilan. Kedua memerangi kemiskinan dengan cara berkontribusi secara sosial dan ekonomi.

Ketiga, memerangi ketidakadilan pada perempuan, dengan cara menentang poligami, perjodohan paksa, dan pingitan.

“Saat ini dua hal sudah beres, perempuan berpendidikan dan berkontribusi secara sosial. Poin ketiga belum. Dan itu yang juga terus diperjuangkan pusat studi dan gender Unair,” terangnya. (tribunnews.com)

 

banner 300x250

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY