Fungsionari MPN PP: Sepantasnya Dahulukan Diskusi Pemilih Berdaulat Daripada Debat...

Fungsionari MPN PP: Sepantasnya Dahulukan Diskusi Pemilih Berdaulat Daripada Debat Siapa Calon

99
0

JAKARTA –  Hampir setiap hari kita selalu disuguhkan berita seputar Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu Serentak 2019. Redaksi sebagaimana akhir pekan selalu menyuguhkan tematik tahun politik melalui berita hasil wawancara khusus dengan Ketua Kajian Nilai Menjadi Orang Indonesia  (KANIMOI ) di Kedai Bakso HUA-HUA di Jalan Condet Raya Batu Ampar No. 7, Jakarta Timur,  Minggu Malam(10/3/18).

Bangun Sitohang yang juga fungsionaris MPN Pemuda Pancasila ini mengawali perbincangannya dengan sebuah analog demokrasi. Ibarat kita ingin membuat kue bolu, bahwa kita hanya membuat takaran bahan yang sudah terencana agar kelak hasilnya sesuai yang kita inginkan bersama. Artinya kita tidak lagi berpikir apa bentuknya tetapi rasanya. Kalau bentuk kan sudah sesuai cetakannya, yang pasti cetakannya bulat. Tugas kita bagaimana membuat rasanya enak dan ada manfaatnya untuk kenikmatan bersama.

Menurut Bung Tohang, berdemokrasi juga demikian, tugas kita sebagai anak bangsa bagaimana menciptakan rasa aman, damai dan terciptanya harmoni kebangsaan. Artinya kita berdemokrasi jangan lagi memikirkan apa dasarnya, sudah jelas dan tegas demokratis berdasar nilai Pancasila. Wujud nyata demokrasi adalah Pemilihan Umum, yang membuka ruang bagi setiap WNI untuk berpendapat melalui penggunaan hak pilih (baik Pilkada maupun Pemilu).

Secara sederhana agar mudah dipahami bahwa kita sudah punya KPU sebagai penyelenggara, BAWASLU sebagai pengawas semua tahapan dan DKPP sebagai penegak moral politik Penyelenggara (KPU dan Bawaslu). Partai politik sebagai pengusul bakal calon anggota legislatif dan bakal pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden kecuali bakal calon anggota DPD yang bersifat perorangan. Penentu dari semua perangkat pemilu yang sudah siap tersebut bahwa yang menjadi wujud kesuksesannya adalah tingkat partisipasi politik dalam Pemilu,  konkretnya para pemilih.

Menurut Bung Tohang sepertinya kita terlena dengan eforia pemilu yang seolah-olah pemilu itu hanya tergantung calon saja. Saat ditanya redaksi, diuraikan beliau dalam kata-tanya, apakah ada diskusi-diskusi publik dari masyarakat yang fokus terhadap urgensi para pemilih? Kalau pemerintah (red:kemendagri) sudah given dengan program pendidikan politiknya.

Kata Bung Tohang, secara klasifikasi pemberitaan baik media cetak, elektronik dan media online jika kita cermati hampir semua cerita perdebatan tentang calonnya siapa dan bagaimana berkoalisi meskipun belum jelas kekuatannya, kan pemilu serentak(legislatif dan pilpres).

Padahal, ujar Tohang yang pernah dicalonkan  jadi Wagub asal Sumut berdampingan dengan  Mantan Gubernur H. Syamsul Arifin ini menjelaskan  kita terkadang lupa core bisnis yang menentukan ada pada pemilih.   Hal pokok yang ingin disampaikan Bung Sitohang jika ingin mencapai pemilu yang bekualitas, sejak kini kita semua elemen bangsa untuk secara aktif dimulai dari keluarga, masyarakat saling mengingatkan pentingnya hak pilih dalam berdemokrasi khususnya melalui pilkada dan pemilu. Semakin banyak pemilih seorang calon maka legitimasi kekuasaan atau posisi yang dimilkinya sangat kuat karena rakyat yang berdaulat.  Inilah “masalah dasar yang kurang didalami” pembahasannya dalam setiap pesta demokrasi.

Saat redaksi mempertanyakan kata kurang didalami, Bangun Sitohang mengajak semua elemen masyarakat dan terdepan partai politik agar dibicarakan terus secara intens dimulai dari tingkat  RT, RW Desa/Kelurahan kecamatan,  kab/kota dan Provinsi tentang pentingnya hak pilih. Tidak ada salahnya saling mengingatkan teman atau saudara kita apakah sudah terdata sebagai pemilih ?  Perlu sejak dini, karena hampir setiap pemilu banyak yang tidak memilih dan alasannya cenderung tidak terdaftar, sehingga kadang “digoreng” menjadi isu liar dalam setiap pemilihan apapun namanya.

Dalam akhir perbincangan, kata Sitohang, pemilih itu berdaulat dan seperti air yang akan mengalir sendiri jika salurannya bersih dan  mulus (tidak bercela). Pemilu itu bukan tujuan tapi wadah (seperti tempat cetakan bolu) bahwa enak tidaknya bolu yang dibuat tergantung “suara rakyat” sebagai penentu rasa, kalau cetakannya yaitu pemilu. Jangan kita sibuk bicara pasangan calon sementara kita tidak sadar bagaimana calon pemilih. Harusnya asosiasi berpikir kita dibalik, utamakan pemilih berdaulat, bukan kepentingan individu atau kelompok, ujarnya.(Zul)

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY