Hijab, Perempuan dan Pembebasan: Tanggapan Untuk Sukmawati

Hijab, Perempuan dan Pembebasan: Tanggapan Untuk Sukmawati

85
0
banner 300x250

Di ATAS PANGGUNG Anna Aventie, produsen kebaya ternama, Sukmawati Soekarnoputri, melalui puisi, mengatakan bahwa wanita berkonde lebih indah dari wanita bercadar, dan suara kidung ibu Indonesia lebih indah dari suara azan. Setelah diawali pernyataan, “saya tak kenal syariat Islam”.

Sukmawati melakukan dua hal pada saat itu, pertama, Sukma menegaskan bahwa perempuan Indonesia itu mempunyai identitas yang berbeda dengan perempuan Islam, khususnya ibu Indonesia itu adalah perempuan berkonde dengan kebaya, bukan perempuan dengan berjilbab. Kedua, Sukma menggunakan panggung “Fashion Show”, sebuah industri kapitalis, untuk menyampaikan pesannya ini. Artinya, atau dapat dimaknai, Sukma bersekutu dengan kapitalisme menyerang identitas Islam.

Wacana yang disampaikan Sukma menarik untuk ditanggapi. Pertama, apakah perdebatan soal perempuan dipanaskan sebatas kecantikan alami berkonde vs. bercadar? Bukankah itu sudah menjadi diskursus kaum feminisme abad lalu? kedua, apakah kebaya sebagai simbol identitas berkontestasi dengan hijab? Bukankah runtuhnya kebaya sebagai simbol keterbelakangan dan kebodohan perempuan terjadi ketika Suharto mengimpor faham liberal dan kapitalisme ke Indonesia?

Ketiga, apakah Sukma sedang melakukan langkah politik untuk menyerang calon gubernur dan wakil gubernur perempuan tertentu yang sedang bekontestasi dalam pilkada di Jawa?

Dalam pentas perempuan nasional saat ini, umpamanya, kita melihat adanya model Rini Sumarno, yang gambarnya terekspos hampir bersentuhan dengan lelaki Batak beristri, Luhut Binsar Panjaitan (LBP), ketika Rini menyentuh dasi pak LBP dengan tangannya. Perempuan kudua adalah Susi Pudjiastuti, perumpuan dengan pamer tato di kakinya dan merokok di publik dan ketiga kofifah, dengan kerudung (hijab/cadar) yang selalu tampil kalem di publik.

Tidak ada ketiga wanita itu memakai kebaya sehari harinya. ataupun berkonde. Pertanyaannya, bagaimana Sukma menilai ketiga orang di atas? Mengapa Sukma tidak menyerang negara yang tidak mewajibkan konde dan kebaya bagi elit elit nya?

Sesungguhnya , feminitas yang diidentikkan dengan keindahan rambut, tubuh, suara perempuan, memang sudah ada sejak jaman Cleopatra. Namun, merujuk pada feminitas natural seperti ini, itu tidak menjelaskan posisi dan hirarki perempuan dalam sistem Sosial yang ada. Apalagi dikaitkan dengan analisa power.

R.A. Kartini dan saudarinya, misalnya, sibuk sepanjang hari berkonde dan menata rambutnya dalam sistem patriakat yang mengurung mereka di rumah, tanpa pendidikan. Mereka memang dipersepsikan akan cantik (ayu) dengan rambut berkonde dan pakaian berkebaya pada usia belianya. Tapi dalam persepsi siapa? Dalam filmnya, Kartini justru sadar dan menolak pemingitan dirinya dengan konde dan kebaya hanya untuk menjadi komoditas sex para bupati dan ningrat jawa kala itu. Mereka resah tubuh dan keayuannya serta seluruh hidupnya, hanya akan segera sirna dipelukan ningrat2 beristri, hanya dijadikan selir. Kartini mengidolakan pembebasan prempuan pada sosok wanita Belanda, teman korespondensinya, yang dia bayangkan tanpa kebaya, tanpa konde, tetapi rajin membaca.

Jadi, kalau Sukmawati mencari akar pertempuran identitas antara perempuan “ibu berkonde” versus lainnya, tentu bukan pada busana muslimah sebagai lawan. Konde dan kebaya sesungguhnya kalah melawan imajinasi wanita wanita kita tentang wanita hebat, seperti dalam mimpi Kartini. Sebuah mimpi yang dibawa modernisasi dan westernisasi. Disinilah kesalahan Sukmawati.

Konsepsi Hijab

Hijab dalam Islam merupakan konsep tentang batas kebolehan perempuan dalam “public sphere”. Menurut Islam, wanita harus melindungi bagian sensualnya dari pandangan umum. Meski penafsiran tentang wilayah sensualitas ini bervariasi, namun mainstream ajaran Islam meyakini wajah dan telapak tangan boleh terbuka.

Konsep ini menempatkan wanita Islam terbebaskan dari pemangsa kapitalis, yang mendorong wanita justru mengekspouse wilayah sensuilnya. Selain itu konsep hijab juga menekankan kesederhanaan dan kecantikan hakikat (inner beauty). Bukan kecantikan biologis (saja), bukan tubuh maupun warna kulit, apalagi wilayah sensuilnya.Konsep ini menempatkan wanita Islam terbebaskan dari pemangsa kapitalis, yang mendorong wanita justru mengekspouse wilayah sensuilnya itu.

Dalam semua tesis tentang perempuan dan ekploitasi kapitalisme, perempuan disebutkan memang dijadikan komoditas. Persepsi perempuan cantik diciptakan industri kecantikan (kosmetik), fashion dan bahkan industri pornografi dan sex.

Cantik itu adalah putih (caucasian/white), langsing, wajah tirus tanpa jerawat, rambut lurus berkilau, dlsb. Persepsi ini dimanfaatkan kapitalisme untuk menjebak perempuan dalam ketergantungan, di mana perempuan2 dijadikan pasar produk kecantikan.

Bagi kapitalis, kecantikan perempuan, termasuk lengan, betis dlsb, tidak boleh ditutupi. Keindahan harus di share ke semua mata yang bisa melihat (termasuk jaman now via Instagram). Bahkan, penonjolan sensualitas merupakan alat penting industri kecantikan dalam mengiklankan produk. Meskipun antara produk (mobil misalnya) tidak berhubungan dengan sensualitas wanita dalam pameran produk mobil, misalnya.

Serangan serangan kaum feminis dari gelombang pertama, kedua, ketiga dan feminisme gelombang ke empat mengecam dominasi laki laki, hak2 reproduksi, hak hak sosial dan politik perempuan, dlsb, serta terakhir gerakan anti “sexual harrasment” tepat terjadi dalam bingkai perspektif kapitalis soal perempuan. Penggunaan hijab, misalnya, sedikitnya menjauhi “sexual harrasment”. Dalam Islam, hak hak wanita mendapatkan kesamaan drajat sebanding lelaki, khususnya dalam “theoritical framework” kemulian disisi Tuhan mereka. Hal ini tentu membutuhkan kajian pada tema yang lain. Namun, sesuatu yang pasti, Islam menjauhkan perempuan dari komodifikasi.

Menjauhkan perempuan sebagai komoditas adalah sebuah pembebasan. Liberation. Hijab adalah Liberation.

Kesalahan Sukmawati

Bagaimana kebaya dan konde dapat kompatible dengan “perempuan produk kapitalis ini?”

Mengapa Sukma yakin pada “ibu konde” dan kidung alami itu dan disampikannya dalam pentas kaum kapitalis, menarik untuk melihatnya. Kalau membaca pikiran seorang feminis Belgia, Denise Comanne dalam “How Patriarchy and Capitalism Combine to Aggravate the Oppression of Women”, ternyata menurut Comanne, ekploitasi terhadap perempuan dilakukan kapitalisme juga dengan menunggangi sistem patrikat. Dan sekali lagi kita tahu, simbol “ibu konde” yang ditawarkan Sukma adalah simbol dalam era dan sistem patriakat.

Berbeda dengan ayahnya, Bung Karno, yang melukiskan pemikiran gagasannya semasa muda dalam “Islamisme, Nasionalisme dan Marxisme” dan semasa tuanya dalam “Nasionalis, Agama dan Komunis”, sang ayah selalu menegaskan bahwa Islamisme dan Nasionalisme adalah kawan sejati melawan kapitalis. Sementara sang anak, Sukmawati, membenci Islam tanpa pijakan yang jelas.

Jadi, Sukmawati telah salah dalam dua hal, pertama, dalam urusan ibu berkonde, salah dalam memusuhi Islam sebagai versus tradisionalisme. Islam sebagai musuh budaya. Kedua, salah dalam bersekutu dengan kapitalisme atau setidaknya memanfaatkan panggung kapitalis (fashion show) untuk melawan Islam.

Kita, ketiga, tetap boleh mencurigai bahwa Sukmawati sedang mendeligitimasi kehadiran Cagub/Cawagub Jatim/Jateng yang berhijab. Entahlah.

Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan

(Sabang Merauke Circle)

 

banner 300x250

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY