Surat Dari Rantau Merekam Semangat Perempuan di Negeri Koala

Surat Dari Rantau Merekam Semangat Perempuan di Negeri Koala

22
0

JAKARTA – Butuh lebih dari sekadar kecukupan finansial jika ingin bepergian ke luar negeri, khususnya dalam misi melanjutkan pendidikan ataupun bekerja. Mental adalah hal yang harus disiapkan dengan matang, khususnya bagi para perempuan.

Bagi saya, mental adalah hal yang harus diutamakan. Karena pada dasarnya hak dan kewajiban laki-laki dengan perempuan itu sama saja.

Terus terang, saya merasa kaget ketika ada seorang teman perempuan yang melepas kesempatan beasiswa karena tidak mendapat dukungan keluarga.

Padahal kesempatan perempuan untuk studi dan berkarir juga sama. Saya merasa, kita sebagai kaum perempuan, perlu percaya diri untuk menjalani peran kita sebagai mahasiswi maupun pekerja di luar negeri.Jakarta, CNN Indonesia — Butuh lebih dari sekadar kecukupan finansial jika ingin bepergian ke luar negeri, khususnya dalam misi melanjutkan pendidikan ataupun bekerja. Mental adalah hal yang harus disiapkan dengan matang, khususnya bagi para perempuan.

Bagi saya, mental adalah hal yang harus diutamakan. Karena pada dasarnya hak dan kewajiban laki-laki dengan perempuan itu sama saja.

Terus terang, saya merasa kaget ketika ada seorang teman perempuan yang melepas kesempatan beasiswa karena tidak mendapat dukungan keluarga.

Padahal kesempatan perempuan untuk studi dan berkarir juga sama. Saya merasa, kita sebagai kaum perempuan, perlu percaya diri untuk menjalani peran kita sebagai mahasiswi maupun pekerja di luar negeri.

Dalam benak sayang seharusnya semua bisa menjalani studinya, terlepas dia perempuan single, menikah, atau single mother. Tidak ada alasan untuk melepas kesempatan begitu saja.

Ketimbang menyimpan ide-ide dalam benak saja, akhirnya saya memutuskan untuk mengumpulkan kisah-kisah para perempuan Indonesia yang kuliah di Australia ke dalam sebuah buku.

Sebelumnya saya sempat membuat sebuah blog yang memuat segala uneg-uneg. Namun saya rasa blog belum cukup.

Langkah pertama yang harus ditempuh adalah menghubungi beberapa teman saya untuk menyumbangkan tulisan tentang suka duka mereka, khususnya dalam menempuh proses pendidikan di Australia.

Dalam tulisan itu, saya minta agar mereka membagi tentang tantangan masing-masing dalam meraih kesempatan mengembangkan diri.

Buku kompilasi tentang kisah nyata ini akhirnya terbit. Ada 34 mahasiswi Indonesia yang memberikan tulisan. Mereka semua pernah menempuh studi S2, S3, kursus singkat maupun program pertukaran di Australia. Pemerintah Australia memiliki andil yang penting dalam terbitnya buku tersebut. (CnnIndonesia.com)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY