Seminar Perempuan Sumut Menuju Senayan yang Digelar FJPI Berlangsung Sukses

Seminar Perempuan Sumut Menuju Senayan yang Digelar FJPI Berlangsung Sukses

27
0

JAKARTA – KONON, kecantikan bersifat relatif. Tak ada yang bisa mendefinisikan bagaimana itu ‘cantik’. Namun, beberapa negara–termasuk Korea Selatan –tak sefleksibel itu memandang kecantikan. Ada standar-standar tertentu yang harus dipenuhi untuk menjadi cantik.

Kecantikan di Korea Selatan bukan hal aneh lagi. Negeri Ginseng itu dikenal dengan sekumpulan perempuan-perempuan cantiknya. Berkulit putih, tubuh langsing, berbibir tipis, berambut panjang, an sederet ‘syarat’ lainnya yang disepakati secara tak langsung.

Namun, hal itu tampaknya membikin sebagian perempuan Korsel geram. Kini, mereka tengah beramai-ramai menghancurkan produk-produk make up dan menggunting rambutnya yang dipamerkan di lini masa. Itu dilakoni dalam rangka memprotes standar kecantikan yang ‘berlaku’ di negaranya.

Ketika Cha Ji-won memutuskan untuk melempar semua koleksi make up dan menggunting rambutnya, sang ibu adalah orang yang pertama kali mengejeknya. “Oh, lihat, aku punya anak laki-laki sekarang.”

Selama lebih dari satu dekade, Cha dengan teliti memoles wajahnya dengan beragam kosmetik. Aktivitas yang dimulainya sejak usia 12 tahun itu berujung pada definisi kecantikan yang mendominasi di Korsel.

Namun, di tengah-tengah pro-kontra soal standar kecantikan itu, Cha memutuskan untuk ‘membuang’ make up, lipstik, dan rambut pirangnya.

“Saya merasa seperti terlahir kembali. Sebelumnya, saya menghabiskan waktu untuk berpikir bagaimana caranya menjadi cantik. Sekarang, saya menggunakan waktu itu untuk membaca buku dan berolahraga,” ujar Cha, mengutip The Guardian.

Cha tak sendiri. Ada sekumpulan perempuan Korsel lainnya yang melakoni hal serupa: membuang make up dan menggunting rambut. Gerakan itu dijuluki “escape the corset” yang secara harfiah berarti “melarikan diri dari korset”.

Make up dianalogikan bak korset yang memaksa perempuan untuk memiliki tubuh–yang katanya–diidamkan. Baik korset maupun make up diasosiasikan sebagai standar kecantikan yang seolah-olah disepakati bersama di Korsel.

Gerakan ini bermula dari aksi seorang perempuan pembawa berita di salah satu televisi Korsel yang tampil dengan mengenakan kacamata. Lim Hyeon-ju adalah perempuan pertama yang tampil mengenakan kacamata di televisi.

“Pembawa berita pria diperbolehkan mengenakan kacamata, tapi mengapa perempuan tidak boleh?” ujar Lim kepada Yonhap News Agency, seperti dikuti The Korea Herald.

Tak cuma ingin terlepas dari lensa kontak yang membuatnya terganggu, tapi Lim juga bermaksud memberikan pesan kesetaraan untuk warga Korsel.

“Saya harap orang-orang tidak perlu merasa tak nyaman menonton pembawa berita berkacamata hanya karena dia seorang perempuan,” kata Lim.

Mengutip The Independent, Korsel melihat bahwa kecantikan merupakan sesuatu yang integral dengan kesuksesan karier dan hubungan asmara. Dengan kata lain, jika Anda ingin sukses dalam asmara dan karier, maka percantik lah diri Anda.

Faktanya, ‘rezim’ kecantikan ini membuat banyak perempuan menghabiskan waktunya selama berjam-jam untuk memulas wajahnya dengan make up. Mereka juga kudu rela bangun dua jam sebelum kerja untuk bersusah payah tampil menarik di kantor.

Tak cuma itu, Korsel juga merupakan negara di mana industri kecantikan bergerak masif. Operasi plastik, salah satunya, yang populer di negara-negara Asia. Satu per tiga perempuan Asia pernah menjalani prosedur operasi plastik. Dan, Seoul–ibu kota Korsel–disebut-sebut sebagai pusat operasi plastik di mana 500 pusat kecantikan ada di sana.

Namun, perlahan tampaknya sebagian perempuan marah akan ‘mimpi’ kecantikan itu. Seorang YouTuber, Lina Bae, telah menghimpun lebih dari lima juta penonton dalam videonya yang berjudul “I Am Not Pretty“.

Dalam video itu, Lina memperlihatkan dirinya yang mengenakan bulu mata palsu serta riasan tebal.

Tak ayal, sederet netizen pun beramai-ramai mengomentarinya. “Wajah kamu seperti teror untuk mata saya,” tulis salah seorang netizen mengejek. Yang lainnya menulis, “Kulitmu tidak bagus untuk seorang wanita.”

Tak peduli atas komentar-komentar ejekan yang menghampirinya, Lina menulis, “Saya tidak cantik, tapi tak apa, karena kamu akan lebih spesial dengan apa adanya.”

Gerakan melarikan diri dari korset dinilai tak cuma melawan konsep wanita sebagai objek seksual. Di luar itu, pakar feminisme Ching-Ang University, Seoul, Lee Na-Young, mengatakan bahwa gerakan itu juga mengubah status perempuan untuk sejajar dengan pria.

“Sebagai hasilnya, kita tidak hanya melihat perubahan dari kebiasaan make up, tapi juga cara perempuan berpenampilan,” ujar Lee, mengutip The Guardian.

“Para perempuan ini menginginkan pembebasan, dan setelah mereka mendapatkan itu, tak akan ada jalan kembali.” (cnnIndonesia.com)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY