Bangun Sitohang: Refleksi 73 Tahun Pekik Merdeka dari Titik Nol Tugu...

Bangun Sitohang: Refleksi 73 Tahun Pekik Merdeka dari Titik Nol Tugu Proklamasi Ri

120
0

PADA TANGGAL 17 Agustus 1945 , bangsa Indonesia merdeka dan semua elemen masyarakat pasti   mudah menyebutnya dan setiap tahun diperingati sebagai hari kemerdekaan RI. Dari pusat sampai daerah terkecil dalam sebutan RT/RW  semua sibuk dan antusias menggelorakan perayaannya, diperlihatkan dari pemasangan umbul-umbul sampai perlombaan yang memperlihatkan kegembiraan atas peringatan kemerdekaan.

Tahun 2018  bangsa Indonesia memasuki  usia 73 Tahun Hari Kemerdekaannya. Secara usia tentunya para pejuang kemerdekaan secara alamiah akan berkurang jumlahnya dan   tentu diperlukan pewarisan nilai-nilai juang tersebut sehingga semua hasil perjuangan para pendiri bangsa dan negara ini menjadi warisan nilai yang menuntun bangsa Indonesia tetap jadi orang Indonesia yaitu nilai Pancasila dan Norma UUD 1945.

Namun dari hiruk pikuk suasana menjelang peringatan Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke 73 tahun ini , perlu kita refleksikan dari titik nol tugu proklamasi sebagai tempat diucapkannya teks proklamasi kemerdekaan RI pertama sekali oleh Presiden Soekarno. Hal yang semakin membuat saya tergerak menuliskan judul titik nol proklamasi karena saya ingat pesan Bung Karno tentang JASMERAH yang pada intinya dalam kontemplasi kejiwaan artinya  “INGAT DAN HARGAI NILAI-NILAI PERJUANGAN KAMI JUGA TEMPAT SEJARAH PERJUANGAN.” inilah refleksi yang ingin saya ungkapkan saat bangsa kita akan memperingati 73 tahun kemerdekaannya.

Tugu proklamasi yang terletak di kelurahan peganggsaan, kecamatan Menteng, DKI  Jakarta, tempat di mana  lebih separuh usia saya tinggal di lingkungan sekitar tugu proklamasi. Sejak 27 tahun saya tinggal di sekitar tugu tersebut saya melihat objek sejarah tersebut “Cenderung Terlupakan” karena jarang dikunjungi sebagai tujuan wisata kebangsaan. Mungkin masyarakat cenderung melihat tugu Monas saja yang menjadi simbol Indonesia dan dampaknya kita sepertinya “melupakan sejarah titik nol pengucapan teks proklamasi kemerdekaan RI”.

Situasi inilah yang membuat hati saya sepertinya Bung Karno mengingatkan saya lewat pikirannya yang tertulis di beberapa literatur dan bahkan dalam statement orasi-orasi unjuk rasa “jangan sekali-kali melupakan sejarah” atau yang kita kenal  JASMERAH.

Pernahkah kita berusaha membenahi tugu proklamasi tersebut sebagai titik nol peringatan pengucapan sejarah kemerdekaan Indonesia ?  Jika jawabannya pernah, sejauhmana antusiasme masyarakat berduyun-duyun mengunjuginya khususnya saat menjelang peringatan pengucapan teks proklamasi.

Sepatutnya kita bisa merefleksikannya bagaimana saat 73 tahun lalu ketika Bung Karno membacakannya di lokasi yang saat ini dinamai tugu proklamasi.

Namun peringatan hari  bersejarah tentu kalau kita kaitkan dengan semangat Jasmerah yang diucapkan bung Karno, sejatinya yang namanya peringatan tentu kembali ke titik nol tempat terjadinya sehingga setiap orang Indonesia mengetahui lokasi SEJARAH BANGSA  saat berikrar merdeka dengan sebutan bangsa dan negara Indonesia. Saatnya peringatan hari ulang tahun kemerdekaaan ke 73 Tahun SECARA NASIONAL dimulai lagi di titik nol TUGU PROKLAMASI. Sehingga menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka, setiap anak bangsa mengenal sejarah bangsanya. Negara harus hadir,,bukankah ini bagian Nawacita ? Mari gelorakan pekik “MERDEKA”  seperti yang diucapkan Bung Karno dari titik nol Tugu Proklamasi RI.  semoga.

Bangun Sitohang
Kepala Badan Pengembangan Studi Pancasila pada Yayasan Digitalisasi Pancasila

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY