oleh

Berhikmat dari Nikmat Hasil Perjuangan Pahlawan Bangsa

Oleh: Bangun Sitohang

Mantan Pengurus MPN Pemuda Pancasila 2014-2019

Hari pahlawan tgl. 10 November diperingati setiap tahun untuk menghargai jasa para pahlawan bangsa yang telah memperjuangkan dan mempertahankan tanah air atau negara dari rongrongan penjajah ( red: pergerakan heroik Bung Tomo di Surabaya melawan tentara Inggris saat itu). Pada tulisan ini hal utama yang perlu kita renungkan adalah bagaimana kita mampu menjadi pahlawan masa kini.

Jika pada masa itu perjuangannya adalah melawan penjajah Inggris (bersenjata) yang berusaha merongrong kemerdekaan bangsa Indonesia yang belum lama diproklamirkan 17 Agustus 1945, padahal saat itu kita belum memiliki persenjataan yang canggih untuk menaklukkan musuh bangsa dan negara.

Perjuangan Heroik yang digerakkan Bung Tomo masa itu didasarkan keyakinan yang kuat bahwa kita bangsa yang relijius ( juga mengandalkan kekuatan Ilahi yang terdengar dalam ajakan pidatonya yang berapi-api di RRI ). Atas keyakinan tersebut, maka Bung Tomo mampu membangun semangat kegotong royongan dengan mengajak semua elemen bangsa dari berbagai unsur golongan, entitas suku bangsa dan daerah untuk bersatu dalam satu tekad bersama untuk melawan penjajah.

Panggilan heroik tersebut menggambarkan nilai juang senasib sepenanggungan untuk menggalang kekuatan persatuan bangsa sebagai kekuatan utama melawan musuh negara. Bukti perjuangan Bung Tomo telah mematrikan satu sikap sebagai anak bangsa bahwa siapapun yang merusak perjuangan bangsa Indonesia yang sudah merdeka, bersatu berdaulat, harus dilawan ( saat itu tentu perjuangan fisik ).

Selanjutnya pertanyaan mendasar, apakah ada persamaan jiwa pahlawan masa lalu ( heroik 10 November 1945 ) dengan perjuangan kita pasca peristiwa tersebut ? Tentu ada yaitu konkretnya jika kita sudah bersatu maka bicara “masalah bangsa dan negara” jangan lagi di antara sesama anak bangsa meributkan perbedaan suku, agama, ras dan entitas daerah, tetapi harus tetap berpedoman pada nilai Pancasila dan norma hukum sesuai UUD 1945, sehingga harmoni kebangsaan tetap terawat. Adapun nilai pahlawan yang dicerminkan saat itu adalah kerelaan berkorban dan ikhlas dalam perjuangannya serta tidak membeda-bedakan suku, agama dan asal daerah dalam sikap persatuannya.

Nilai juang kepahlawanan saat ini cenderung diperhadapkan dengan tantangan yang tidak lagi secara fisik serta tidak dibatasi jarak dan waktu. Penjajahan tersebut bisa karena dampak negatif kemajuan tehnologi informasi yang dikemas dalam bentuk “HOAKS” yang cenderung merusak hubungan sosial di masyarakat dan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.

Suka atau tidak suka kita tidak bisa menghindar dari dampak kemajuan tehnologi informasi yang serba elektronik. Namun dari implikasi kemajuan tersebut secara positip membantu percepatan tersebarnya pesan-pesan pembangunan bangsa dan juga memberi peluang bagi setiap pihak untuk berkreasi dalam memajukan dirinya, tetapi dampak negatifnya adalah masih lemahnya kapasitas intelektual SDM bangsa dalam memaknai informasi yang lalu lalang di dunia maya ( medsos, media on line dan lainnya ), sehingga kecepatan perubahan zaman yang tidak diimbangi dengan SDM yang unggul, menjebak kita menjadi budak tehnologi pada masa kini. Itulah sebabnya HOAKS dapat menjadi model “penjajahan non fisik di era global”. Secara umum , HOAKS bisa membuat semakin lemahnya jatidiri bangsa serta konsep berpikir cenderung liberal dan universal padahal kita sudah memiliki Pancasila, oleh karenanya sepantasnya nasionalisme yang berwawasan nusantara. Artinya agar kita melihat persoalan global (lewat alat komunikasi ) harus berpijak pada nilai persatuan Indonesia, karena itulah modal dasar semangat kepahlawanan Indonesia, masa lalu , sekarang dan masa mendatang.

Kemudian patut kita sikapi lagi, bagaimana implementasi nilai juang kepahlawanan masa kini ? Sederhana menjawabnya, yaitu dimulai dari sikap diri kita sendiri dengan memberikan teladan sesuai peran kita. Konsisten antara ucapan dan perbuatan serta patuh pada konstitusi dan aturan turunannya.

Dengan adanya keteladanan, kita akan dihargai dan generasi setelah kita akan mengikuti jejak perjuangan kita. Ingatlah bahwa manusia dihargai bukan saja karena status sosial, pangkat, banyak gelar dan jabatannya tetapi karena buah pikirnya yang berguna untuk kemajuan peradaban manusia ( bangsa). Inilah arti nilai kepahlawanan yang konkret dalam implementasinya.

Sebagai catatan untuk kita renungkan bahwa nikmat kemerdekaan yang kita dapat saat ini adalah hikmat hasil perjuangan para pahlawan bangsa, tugas kita meneruskan nilai juang tersebut ( rela berkorban dengan mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kelompok serta menjaga nilai Persatuan Bangsa ) sehingga kita menjadi bangsa yang maju dengan SDM unggul secara intelektual dan bermoral kebangsaan sesuai nilai Pancasila. Semoga.

______________

Kandidat Doktor Univ Negeri Jakarta (UNJ) dan Ketua Kajian Nilai Menjadi Orang Indonesia (KANIMOI).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed