Mensos: Narkoba Sudah Jadi Senjata Pemusnah Massal

Jakarta – Sebagian pihak menganggap Indonesia masih sebagai transito narkoba. Padahal, realitasnya narkoba oleh pihak tidak bertanggung jawab dimasukkan dalam brownis, kue, dodol, permen dan obat pelangsing.

“Masih relevankah anggapan Indonesia sebagai negara transito narkoba dengan kondisi di atas?” papar Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa pada acara Dialog ‘Pelajar Lawan Narkoba dan Launching Sekolah Antinarkoba‘ di Gedung PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/4/2015).

Saat ini, menurutnya, Indonesia sudah menjadi negara produsen narkoba dengan korban setiap tahun terus berjatuhan. Narkoba tidak lagi dipersepsikan dengan kondisi darurat, melainkan sudah menjelma menjadi teror sekaligus senjata pemusnah massal.

“Indonesia sudah diteror dengan narkoba yang menyerang di semua lini kehidupan dan umur, sehingga menjelma sebagai senjata pemusnah massal yang massif,” ungkap Mensos.

Untuk mengatasinya tidak bisa Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kepolisian saja. Semua elemen masyarakat harus terlibat aktif, termasuk dari para pelajar, mahasiswa, serta para religious leader semua agama tanpa terkecuali.

“Dengan melibatkan berbagai pihak, optimis penanganan narkoba bisa dilaksanakan dengan baik guna menyelamatkan generasi bangsa. Tentunya, dengan kekuatan doa dari para religious leader mengiringi upaya yang dilaksanakan,” tutur Khofifah.

Selain itu, diperlukan juga pemahaman yang sama terkait penanganan narkoba yang melibatkan berbagai pihak tersebut, seperti lembaga pendidikan, pelajar dan masyarakat lainnya.

“Jika channelnya sudah sama, maka pemahaman akan bahaya narkoba pun akan sama. Maka, akan tercipta saling kerja sama dan bergandengan tangan dalam penanganan barang haram tersbut, ” tandasnya.

Upaya Kementerian Sosial (Kemensos) dengan mengakreditasi 119 Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) yang didukung kanselor dan pekerja sosial (peksos) adiksi, untuk memberikan pelayanan rehabilitasi sosial terhadap korban penyalahgunaan narkoba.

“Kemensos mengakreditasi 119 IPWL yang didukung kanselor dan peksos adiksi untuk merehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba, saat ini sudah angkatan pertama, ” katanya.

Melalui metode integratif dan pendekatan religius, para korban penyalahgunaan narkoba bisa tidak kambuh dengan pencapaian 60 persen. Sedangkan, metode yang tidak dengan pendekatan religius, kemungkinan bisa kambuh lagi dikisaran 80 persen.

“Kemensos menyedikan tempat untuk rehabilitasi sosial bagi korban penyalahgunaan narkoba, termasuk bagi mereka yang terkena gangguan jiwa dan mengalami addict instabilitas, ” ucapnya.

Inisiatif dan upaya yang dilakukan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Kemensos memberikan apresiasi yang positif, sekaligus menjadi mitra strategis dalam pencegahan narkoba.

“Kemensos memberikan apresisi terhadap inisiatif IPM untuk bersama-sama mencegah peredaran narkoba khususnya di lingkungan pelajar sekolah,”tegasnya.

Untuk menguatkan segala upaya penanganan narkoba. Juga, mesti dibarengi dengan berbagai ritual ibadah, seperti shalat istikharah, shalat tahajud dan ibadah yang lainnya.

“Jika diiringi shalat istikharah, shalat tahajud dan ibadah lainnya, pertolongan Allah SWT akan datang dan menguatkan pikiran dan hati kita untuk selalu bergandengan tangan dalam penanganan narkoba,” tuturnya. (Herdianto/

Mensos: Narkoba Sudah Jadi Senjata Pemusnah Massal

Jakarta – Sebagian pihak menganggap Indonesia masih sebagai transito narkoba. Padahal, realitasnya narkoba oleh pihak tidak bertanggung jawab dimasukkan dalam brownis, kue, dodol, permen dan obat pelangsing.

“Masih relevankah anggapan Indonesia sebagai negara transito narkoba dengan kondisi di atas?” papar Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa pada acara Dialog ‘Pelajar Lawan Narkoba dan Launching Sekolah Antinarkoba‘ di Gedung PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/4/2015).

Saat ini, menurutnya, Indonesia sudah menjadi negara produsen narkoba dengan korban setiap tahun terus berjatuhan. Narkoba tidak lagi dipersepsikan dengan kondisi darurat, melainkan sudah menjelma menjadi teror sekaligus senjata pemusnah massal.

“Indonesia sudah diteror dengan narkoba yang menyerang di semua lini kehidupan dan umur, sehingga menjelma sebagai senjata pemusnah massal yang massif,” ungkap Mensos.

Untuk mengatasinya tidak bisa Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kepolisian saja. Semua elemen masyarakat harus terlibat aktif, termasuk dari para pelajar, mahasiswa, serta para religious leader semua agama tanpa terkecuali.

“Dengan melibatkan berbagai pihak, optimis penanganan narkoba bisa dilaksanakan dengan baik guna menyelamatkan generasi bangsa. Tentunya, dengan kekuatan doa dari para religious leader mengiringi upaya yang dilaksanakan,” tutur Khofifah.

Selain itu, diperlukan juga pemahaman yang sama terkait penanganan narkoba yang melibatkan berbagai pihak tersebut, seperti lembaga pendidikan, pelajar dan masyarakat lainnya.

“Jika channelnya sudah sama, maka pemahaman akan bahaya narkoba pun akan sama. Maka, akan tercipta saling kerja sama dan bergandengan tangan dalam penanganan barang haram tersbut, ” tandasnya.

Upaya Kementerian Sosial (Kemensos) dengan mengakreditasi 119 Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) yang didukung kanselor dan pekerja sosial (peksos) adiksi, untuk memberikan pelayanan rehabilitasi sosial terhadap korban penyalahgunaan narkoba.

“Kemensos mengakreditasi 119 IPWL yang didukung kanselor dan peksos adiksi untuk merehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba, saat ini sudah angkatan pertama, ” katanya.

Melalui metode integratif dan pendekatan religius, para korban penyalahgunaan narkoba bisa tidak kambuh dengan pencapaian 60 persen. Sedangkan, metode yang tidak dengan pendekatan religius, kemungkinan bisa kambuh lagi dikisaran 80 persen.

“Kemensos menyedikan tempat untuk rehabilitasi sosial bagi korban penyalahgunaan narkoba, termasuk bagi mereka yang terkena gangguan jiwa dan mengalami addict instabilitas, ” ucapnya.

Inisiatif dan upaya yang dilakukan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Kemensos memberikan apresiasi yang positif, sekaligus menjadi mitra strategis dalam pencegahan narkoba.

“Kemensos memberikan apresisi terhadap inisiatif IPM untuk bersama-sama mencegah peredaran narkoba khususnya di lingkungan pelajar sekolah,”tegasnya.

Untuk menguatkan segala upaya penanganan narkoba. Juga, mesti dibarengi dengan berbagai ritual ibadah, seperti shalat istikharah, shalat tahajud dan ibadah yang lainnya.

“Jika diiringi shalat istikharah, shalat tahajud dan ibadah lainnya, pertolongan Allah SWT akan datang dan menguatkan pikiran dan hati kita untuk selalu bergandengan tangan dalam penanganan narkoba,” tuturnya. (Herdianto/ obsessionnews.com)

PBNU Usul Hari Santri 22 Oktober

Bogor – Peran historis umat Islam dan para alim ulamanya dalam memerdekakan bangsa Indonesia perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengusulkan pengakuan peran itu dalam ditetapkannya tangga 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN) bentuk

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj mengatakan hal saat berbicara pada Focus Group Discussion (FGD) Pendidik dan Kependidikan Keagamaan, Bogor, Kamis (23/4) malam.

Menurut KH Said Aqil Siradj, dirinya dari NU merekomendasikan hari santri adalah tanggal 22 Oktober. Dia mengaku kurang setuju dengan wacana penetapan HSN pada tanggal 1 Muharram. Sebab, lanjutnya, tahun baru Hijriyah merupakan hari di mana seluruh umat muslim dunia memperingati tahun baru Islam.

Moment yang pas, lanjut Kiai Said, ialah hari yang mempunyai kekhasan historis dalam konteks perjuangan Indonesia.

Kyai alumni Pesantren Lirboyo ini mengatakan, peranan santri dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia sungguh luar biasa.  Dalam peran itu, ada sebuah momentum  penting dalam sejarah perjuangan dan pembelaan kaum santri untuk Indonesia. Momentum itu terjadi pada tanggal 22 Oktober 1945 ketika lahir Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asyari bersama ulama-ulama dari perwakilan berbagai organisasi masyarakat lainnya di luar NU, seperti Syarikat Islam dan Muhammadiyah.

“Saat itu, Mbah Hasyim mengajak santri agar menyambut kedatangan pasukan NICA dengan darah dan nyawa,” tukasnya dalam acara dengan tema ‘Hari Santri dalam Perspektif Lembaga Keagamaan’ yang dilansir laman kemenag.go.id, Jumat.

Sebelumnya, Kiai Said menjeskan bahwa jauh sebelum Indonesia merdeka sudah ada santri. Santri  yang pertama kali datang ke Indonesia bernama Syeh Subakir. Dia datang pada masa Kerajaan Kalingga yang dipimpin oleh Ratu Shima di Jepara.

Pada periode selanjutnya, ada lagi seorang santri atau ulama bernama Syeh Washim yang menginjakkan ke bumi Nusantara bertemu Raja Jayabaya. Kitab yang dibawanya lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan diberi nama buku Joyoboyo. Kemudian pula ada nama Syeh Hasan dari Negeri Tirai Bambu yang berada di Rengas Dengklok pada masa Raja Siliwangi.

Singkat ceritanya, tutur Kyai Said, kemudian masuk Raja Majapahit V melalui jalur istri dari Campa yang melahirkan pangeran Jimbun, yang kemudian terkenal dengan Raden Fatah setelah memeluk Islam. Raden Fatah kemudian menjadi raja di kerajaan Islam Demak Bintoro sebagai Kerajaan Islam pertama di Tanah Jawa. Dalam perjalanan selanjutnya,  banyak rakyat Majapahit ingin menjadi santri Demak.

FGD ini diikuti oleh 90 orang terdiri atas beberapa unsur dari  Pimpinan Lembaga Keagamaan dan Pesantren, Ormas, dan akademisi. Narasumber yang hadir antara lain: Dirjen Pendidikan Islam, Ketum PBNU, Ketum PP Muhammadiyah, sera MUI. (zul)

 

Biaya Haji 2015 Akan Diumumkan Hari Ini

Jakarta – Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2015 rencananya akan diumumkan pada hari ini seiring  pertemuan antara pemerintah dengan DPR di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu.

“Masyarakat diminta sabar nanti pada saatnya akan disampaikan besaran BPIH,” kata Direktur Jenderal Penyelenggara Haji dan Umrah, Abdul Djamil di Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan pembahasan hari ini banyak membahas tentang efisiensi harga dalam komponen BPIH, seperti pemondokan, penerbangan dan unsur lainnya.

Harga-harga, kata dia, akan disesuaikan dengan kondisi terkini seperti pergerakan dolar yang mempengaruhi sejumlah komponen BPIH. (Ant/ Aditia Maruli)

Presiden: Ancaman Stabilitas Bisa Saling Mempengaruhi

Jakarta – Presiden Joko Widodo menegaskan ancaman stabilitas negara dan kawasan bisa saling mempengaruhi di era globalisasi saat ini sehingga semua pihak harus saling bekerjasama untuk menangani ancaman stabilitas baik yang berasal dari internal maupun ekternal.

“Ya bisa, stabilitas itu dua ancamannya, internal dan eksternal,” kata Presiden Joko Widodo dalam wawancara khusus dengan Antara di Istana Merdeka Jakarta, Senin (20/4).

Presiden mengatakan potensi ancaman internal dan eksternal harus sama-sama ditangani karena bila sebuah negara secara internal aman, namun stabilitas kawasannya bergejolak maka juga akan memberikan pengaruh pada negara tersebut, termasuk dari sisi ekonomi.

“Saya kira dua-duanya. Sekarang ini kan dengan posisi bebas ini kan dua-duanya bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi sebuah negara, sebagus apapun sebuah negara kalau stabilitas eksternalnya terguncang juga akan terganggu,” kata Kepala Negara.

Presiden Joko Widodo mengatakan salah satu ancaman di kawasan saat ini ada gerakan-gerakan radikal dan terorisme di samping peredaran narkotika.

“Saya kira banyak, stabilitas keamanan, paham-paham radikal, paham-paham ekstrimisme yang sekarang hampir semua negara mengalami dan alhamdulillah kita dilihat sebagai sebuah negara yang juga mampu mengatasi itu dengan pendekatan yang berbeda bukan hanya keamanan, tapi juga keagamaan dan budaya. Itu yang diingat oleh negara lain, Indonesia sebagai negara Islam moderat yang betul-betul tidak ada kompromi terhadap kekerasan yang berkaitan dengan terorisme dan ekstimisme,” katanya.

Presiden mengatakan keberhasilan meredam gerakan-gerakan radikal di dalam negeri tidak terlepas dari bantuan semua pihak, tak hanya kerja pemerintah namun juga kerja keras ormas-ormas keagamaan nasional dan juga peran serta masyarakat.

Dengan terciptanya stabilitas di negara dan kawasan maka bukan hanya pembangunan yang bisa berlangsung dengan baik namun juga pertumbuhan ekonomi secara luas juga bisa terjadi dan saling menguntungkan di antara negara-negar di kawasan.

Pada Selasa (21/4) Presiden Joko Widodo membuka Asian African Bussiness Summit di Jakarta Convention Centre yang merupakan bagian dari rangkaian pertemuan dalam rangka Peringatan ke-60 tahun Konferensi Asia Afrika.

Presiden Joko Widodo pada Rabu (22/4) juga dijadwalkan membuka dan memberikan sambutan dalam KTT Asia Afrika di Jakarta yang dihadiri oleh 34 kepala negara dan kepala pemerintahan serta delegasi-delegasi dari negara Asia Afrika lainnya. (Ant/ Fitri Supratiwi)

Akun Facebook Ketum Muhammadiyah Din Syamsuddin Dipalsu

Jakarta – Pengguna internet anonim dilaporkan memalsukan akun facebook Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Prof Din Syamsuddin, serta mem-posting pernyataan-pernyataan kontroversial.

“Din Syamsuddin tidak memiliki akun facebook. Akun yang beredar itu adalah palsu dan diduga sengaja dibuat orang tidak bertanggung jawab untuk mendiskreditkan Ketum Muhammadiyah dan Ketum MUI,” kata anggota Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah Mustofa B Nahrawardaya, di Jakarta, Minggu (19/4/2015).

Nahra mengatakan, akun palsu tersebut mencirikan radikalisme dengan mempromosikan gerakan anti-Syiah.

Soal Syiah, kata dia, PP Muhammadiyah telah menyatakan diri tidak sepaham dengan aliran tersebut. Kendati demikian, Muhammadiyah tidak menyatakan dukungan terhadap gerakan anti-Syiah.

“Itu anti-antian adalah kerjanya pihak tertentu yang ingin menyeret Muhammadiyah menjadi seolah-olah gerakan radikal,” katanya.

Nahra menyesalkan perbuatan pihak tidak bertangung jawab tersebut dan meminta akun itu ditutup.

Berdasarkan penelusuran terkini, akun dengan nama dapat Prof Dr Din Syamsuddin MA sudah tidak dapat ditemukan.

Saat dikonfirmasi, dia mengatakan hal itu terjadi karena pemilik akun palsu itu menutupnya setelah Nahra mempublikasikan tentang maklumat Syamsuddin yang tidak memiliki Facebook.

“Saya sudah beberapa hari lalu minta ditutup, terserah ditutup atau tidak. Saya malah baru tahu kalau sudah ditutup. Kemungkinan broadcast message saya sudah dibaca oleh pembuat akun palsu itu. Saya juga sudah lapor ke pihak berwajib urusan kriminal siber,” kata dia. (ant)

25 mahasiswa asal Palu tiba dari Yaman

Palu ­- Sebanyak 25 mahasiswa asal Kota Palu tiba dari Yaman secara bergelombang, pada Kamis malam, setelah situasi keamanan di negara itu semakin tidak kondusif.

Mereka mendarat di Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu, Kamis malam, menggunakan pesawat reguler Garuda Air Line GA-622 sekitar pukul 22.30 WITA.

Mereka disambut haru oleh keluarga yang menunggu di terminal bandara Mutiara. Para orang tua yang menunggu langsung memeluk dan mencium anak mereka sebagai ungkapan rasa syukur karena bertemu kembali dengan anaknya.

Dalam penerbangan terakhir tersebut sebanyak 11 mahasiswa, masing-masing delapan laki-laki dan tiga perempuan.

Sebagian dari mahasiswa asal Sulawesi Tengah tersebut sudah tiba di Palu siang hari.

Moh Muadz Alamri salah seorang mahasiswa mengatakan, mereka diterbangkan dari Oman dan tiba di Indonesia Kamis pagi.

“Kalau situasi di kampus masih aman,” kata Muadz.

Dia mengatakan, sebetulnya situasi di Taarim masih aman hanya saja untuk keselamatan mereka pemerintah mengambil keputusan untuk mengevakuasi lebih dari 1.000 warga negara Indonesia sebagian diantaranya mahasiswa.

Keluarga mahasiswa menyampaikan apresiasi dan berterima kasih kepada pemerintah RI karena sudah mengevakuasi anak dan cucu mereka hingga akhirnya tiba di daerah masing-masing.

“Saya sebagai orang tua menyampaikan terima kasih atas kepedulian pemerintah kepada anak-anak kami yang kuliah di Yaman,” kata Umar Awad Alamri, salah seorang kakek dari mahasiswa. (Ant/ B Kunto Wibisono)

 

Keluarga berharap jenazah Siti Zaenab dipulangkan ke Madura

Bangkalan – Keluarga berharap pemerintah membantu pemulangan jenazah Siti Zaenab, tenaga kerja Indonesia yang dihukum mati di Arab Saudi, ke Martajasa, Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Kakak Siti Zaenab Halimah mengatakan keluarga ingin melihat langsung wajah Zaenab untuk terakhir kalinya  sebelum dimakamkan.

“Sudah bertahun-tahun keluarga yang ada di sini tidak pernah berjumpa dengan Zaenab. Jika pemerintah berkenan memulangkan dia, kami ingin saudara saya dikebumikan di tanah kelahirannya di sini,” kata Halimah, Rabu, sembari berlinangan air mata.

Ia mengaku terakhir kali bertemu Siti Zaenab tanggal 5 Maret 2015, saat dia datang ke Arab Saudi untuk menjenguk dia di penjara dengan fasilitas dari pemerintah Indonesia.

Siti Zaenab binti Duhri Rupa dipidana karena kasus pembunuhan terhadap istri pengguna jasanya yang bernama Nourah binti Abdullah Duhem Al Maruba pada 1999.

Ia ditahan di Penjara Umum Madinah sejak 5 Oktober 1999 dan menjalani hukuman mati di Madinah pada Selasa (14/4) pukul 10.00 waktu setempat.

Keluarga mengetahui eksekusi mati Siti Zaenab setelah perwakilan Kementerian Luar Negeri datang ke rumahnya pada Rabu pagi.

Keponakan Siti Zaenab, Tri Cahyono, pada Selasa (14/4) malam mengaku belum tahu kabar tentang eksekusi mati Siti Zaenab meski berita tentang eksekusi mati perempuan asal Desa Martajasa itu telah beredar di berbagai media nasional.

Sejak pagi rumah Zaenab di Desa Martajasa, Bangkalan, Madura didatangi banyak pejabat dari Kementerian Luar Negeri maupun pemerintah kabupaten setempat.

Pemerintah Indonesia menyampaikan duka cita yang mendalam kepada sanak keluarga Siti Zaenab.

Pemerintah juga menyampaikan protes kepada Pemerintah Arab Saudi karena tidak menyampaikan pemberitahuan kepada Perwakilan RI maupun keluarga mengenai waktu pelaksanaan hukuman mati. (Ant/ Maryati)

Kemenag Mukomuko usulkan sertikasi guru lama mengabdi

Mukomuko – – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, mengusulkan sertifikasi guru yang telah lama mengabdi di daerah itu.

“Saat ini kami masih melakukan pendataan awal bagi guru yang sudah mengabdi sejak tahun 2005 sampai sekarang,” kata Kasi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Mukomuko Syukran, di Mukomuko, Selasa.

Ia mengatakan, pendataan ini tujuannya untuk sertifikasi guru baru di madrasah. Guru yang didata itu baik yang telah berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS) maupun tenaga honorer.

Karena, katanya, di instansi itu tidak hanya guru yang sudah PNS saja yang boleh sertifikasi tetapi guru honorer juga dapat. Cuma bedanya kalau guru honorer pengambilan uang sertifikasinya di Kemenag.

“Kalau guru yang sudah PNS mengambil tunjangan sertifikasinya di sekolah masing-masing,” ujarnya.

Ia menyebutkan, sebanyak 110 orang guru PNS dan 415 orang guru honorer berada di bawah naungan Kemenag setempat.

Dari jumlah tersebut, sebutnya, sebanyak 90 orang guru PNS dan 65 orang guru non PNS yang telah bersertifikasi. Sisanya guru yang masih baru mengajar.

Namun, lanjutnya, masih ada guru di MIN yang belum sarjana tetapi sudah mengajar sejak tahun 2005 sampai sekarang.

“Bagi guru yang ingin mengusulkan sertifikasi tetapi belum tamat sarjana satu diberikan kesempatan menyelesaikan pendidikannya pada Desember 2015 ini,” ujarnya. (Ant/ Fitri Supratiwi/ Foto: Ist)

Menag: jihad Membangun Peradaban, Bukan Menumpahkan Darah

Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap para pelajar, mahasiswa, dan warga negara Indonesia (WNI) di Yaman mengikuti arahan KBRI Yaman dan Tim Evakuasi WNI untuk kembali ke Tanah Air.

Di samping itu, Menag juga menyerukan agar mereka berjihad di Tanah Air dengan membangun peradaban, bukan dengan menumpahkan darah di negeri orang.

“Saya berharap pelajar, mahasiswa, dan warga kita yang masih berada di Yaman bersedia ikuti arahan KBRI Yaman dan Tim Evakuasi WNI untuk kembali ke Tanah Air,” kata Menag melalui siaran pers dari Kementerian Agama, Minggu.

“Berjihadlah di Tanah Air membangun peradaban, bukan di negeri orang dengan menumpahkan darah,” serunya lagi.

Menurut Menag, situasi keamanan di Yaman kian tak menentu, bahkan makin mencemaskan akibat konflik bersenjata yang terus memanas. Pemerintah RI bertanggungjawab atas keselamatan jiwa setiap WNI. Kewajiban negara menyelamatkan jiwa warganegaranya, karenanya WNI yang ada di Yaman diminta lebih mengutamakan keselamatan diri.

WNI, lanjut Menag, tidak perlu ikut-ikutan berperang dengan niat jihad membela salah satu kelompok yang bertikai. Peperangan itu lebih karena perkara politik berebut pengaruh dan kuasa. Masih banyak medan jihad di Tanah Air yang lebih substansial yang lebih dibutuhkan bagi kemaslahatan sesama. Berjihad bukan di negeri orang, apalagi dengan cara kekerasan menumpahkan darah.

“Berjihadlah di Tanah Air dengan membangun peradaban demi wujudkan kesejahteraan bagi sesama,” tegas Menag. (Ant/ Fitri Supratiwi)

 

Ukiran Jepara dan Seksinya Ekonomi Afrika Selatan

Jakarta – Dunia selebar daun kelor. Begitu orang-orang berpribahasa guna menggambarkan betapa sempitnya buana. Itu pula yang Antara News rasakan saat mendapati satu tempat niaga bernuansa Indonesia di satu sudut di kota Jonnesburg, Afrika Selatan, yang jauhnya 8.500-an km dari Nusantara, akhir Maret lalu.

Nama tempat niaga itu, sebenarnya juga nama sebuah ruang pamer, adalah Derakera.

Di sini, nuansa Bali dan Jepara begitu kental dan menjadi bukti Indonesia memang ada di depan pelupuk mata negeri di ujung benua Afrika yang pernah menjadi tempat singgah para penjelajah dunia dari Vasco Da Gama sampai Abel Janszoon Tasman pada awal era kolonialisme silam sebelum mereka berlomba menaklukkan dunia sampai kemudian menjajah Asia dan Afrika.

Ranjang, meja, kursi, dan kabinet ditata rapi-rapi di ruang pamer ini. Tidak ada barang lain kecuali yang didatangkan dari Tanah Air, di antaranya dari Bali dan Jepara. Hampir semuanya dibentuk dari desain yang minimalis.

Orang-orang Afrika Selatan, menurut pengelola Derakera, sangat menyukai furnitur Indonesia.

Alasan “Derakera” memilih Indonesia sebagai pemasok adalah karena produk furnitur hand-mande Indonesia memang menjadi daya tarik terbesar bagi pembeli di negeri mendiang pejuang antidiskriminasi ras Nelson Mandela ini.

Tak hanya furnitur, barang-barang konsumsi produksi Indonesia lainnya juga diterima dengan baik di sini, termasuk permen jahe. Cuma ada yang agak memberatkan untuk produk-produk berglukosa karena Afrika Selatan menerapkan bea impor 37 persen untuk produk apa pun yang mengandung gula.

Untaian jenis produk buatan Indonesia yang disukai Afrika Selatan tak terputus di situ. Mi instan, saus, dan bumbu masakan khas Indonesia seperti yang dibuat produsen produk makanan terkemuka Indofood, juga sudah umum di negeri ini. Buktinya, beberapa supermarket Afrika Selatan dipajangi produk-produk seperti yang biasa ada di toserba-toserba Indonesia.

Namun, menurut Carlo Fei Tong, importir produk Indofood di Afrika Selatan, untuk memasukkan dan mengenalkan produk Indonesia ke negeri ini bukan perkara mudah, meski produk Indonesia cukup kompetitif di sini.

“Kami harus benar-benar meyakinkan mereka (pemilik supermarket) mengapa mereka butuh produk ini. Prosesnya tidak gampang untuk mendapat perhatian mereka,” kata Carlo yang merupakan warga Afrika Selatan keturunan Hong Kong. Perusahaannya juga mengimpor produk makanan dari Hong Kong, Tiongkok, dan Thailand.

Tidak itu saja hambatannya. Ganjalan lain adalah aturan bea impor, pelabelan, dan pengawasan mutu yang ketat diberlakukan pemerintah Afrika Selatan.

Carlo bertestimoni, tidak sekali dua kali ia bermasalah dengan aturan itu, terutama soal pelabelan yang mengharuskannya “bekerja ekstra” untuk menyesuaikan label produk dengan ketetapan yang diharuskan.

Tantangan lain yang harus dihadapi Carlo adalah situasi keamanan di Afrika Selatan. Dia menunjuk tingkat kejahatan yang tinggi di negeri yang dulu diperintah rezim rasis Apartheid tersebut, dan  ini membuat siapa pun cemas, termasuk importir seperti dia.

Beberapa waktu lalu Carlo bahkan harus merelakan satu mobil distribusinya dirampas perampok.

Masih kalah bersaing

Apa pun kendalanya, itu semua tidak menutup fakta bahwa betapa besar dan seksinya peluang pasar Afrika Selatan. Jika tidak begitu, maka tak mungkin orang-orang seperti Carlo Fei Tong yang tahu benar risiko berbisnis di Afrika Selatan mau bertahan dan mengembangkan sayap bisnisnya di sana.

Jika Carlo bisa, maka tidak ada alasan bagi pengusaha lain di Indonesia untuk sebisa Carlo di Afrika Selatan, apalagi beberapa kalangan menyebut Indonesia begitu akrab di telinga orang-orang Afrika Selatan.

Indonesia sendiri, menurut Duta Besar Indonesia untuk Afrika Selatan Suprapto Martosetomo, belum mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya.

Dia lalu menyebut salah satu produk Indoneesia yang berprospek cerah di Afrika Selatan adalah furnitur seperti diniagakan oleh Derakera itu.  Tetapi untuk produk ini, Indonesia belum bisa melewati dominasi Vietnam.

Ironisnya, meski tergolong pemain baru di Afrika Selatan, Vietnam bisa dengan cepat menguasai pasar, salah satunya produk furnitur.

“Saya lihat sendiri demikian agresifnya pengusaha Vietnam,” katanya ketika di ruang kerjanya di Pretoria, akhir Maret silam.

Suprapto tak berlebihan dalam mengumbar betapa atraktifnya peluang bisnis dan perekonomian Afrika Selatan, selain saat membeberkan masih kurang tajamnya penetrasi bisnis Indonesia di Afrika Selatan.

Padahal, menyandang predikat perekonomian terbesar kedua di Afrika setelah Nigeria dan negara berpenghasilan menengah ke atas di benua hitma ini, Afrika Selatan adalah pasar yang begitu menjanjikan siapa pun, termasuk Indonesia.

Negara yang kini dipimpin Presiden Jacob Zuma ini tengah sibuk menawarkan peluang bisnis dan investasi, menantang siapa pun untuk menjamahnya.

Menurut catatan Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) Johannesburg, total perdagangan Afrika Selatan periode Januari-November 2014 sebesar 176,28 miliar dolar AS. Rinciannya, 83,42 miliar dolar untuk eskpor dan 92,87 miliar dolar lainnya impor.

Pada 2014, Tiongkok menjadi mitra dagang utama Afrika Selatan. Raksasa ekonomi kedua dunia itu menduduki ranking satu sebagai pemasok utama ke Afrika Selatan, disusul Jerman, lalu Saudi Arabia, Amerika Serikat, dan Nigeria. Indonesia sendiri menempati peringkat 27.

Yang agak ironis, meski berpostur paling besar di ASEAN, Indonesia masih kalah bersaing dari Thailand, Singapura, Malaysia, dan Vietnam.

Menurut data rilisan South African Revenue Service (SARS), pada level ASEAN, peringkat pertama ditempati Thailand, sementara Indonesia ada di urutan kelima, persis di bawah Vietnam.

Data Kementerian Perdagangan yang diolah dari Badan Pusat Statistik mencatat, tahun lalu nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Afrika Selatan adalah 1,38 miliar dolar AS. Minyak kelapa sawit, karet dan produk karet, serta kendaraan bermotor adalah beberapa item andalan ekspor Indonesia ke Afrika Selatan, selain tentunya furnitur.

Suprapto Martosetomo yakin angka ekspor tersebut masih bisa ditingkatkan lagi karena ia percaya Indonesia baru mengeluarkan sedikit dari kemampuan-kemampuan terbaiknya.

Perkuat hubungan

Suprapto dan Kepala ITPC Johannesburg Pontas Parsaroan Tobing mencermati semua ini, termasuk situasi-situasi sulit di lapangan yang dihadapi para pengusaha seperti dikeluhkan Carlo Fei Tong itu.

Menurut Suprapto, pemerintah Indonesia dan Afrika Selatan harus mulai intensif membahas segala penghalang bagi peningkatan hubungan perdagangan kedua negara.

Afrika Selatan adalah pasar potensial yang sayang untuk dilewatkan sehingga apa saja yang menyulitkan atau membuat pengusaha Indonesia ragu memasuki pasar Afrika Selatan harus dibahas sampai solusi untuk mengatasinya ditemukan, kata Suprapto.

Ia mengharapkan forum komunikasi bilateral Joint Trade Comission (JTC) dapat segera digelar, untuk membahas langkah-langkah peningkatan hubungan ekonomi kedua negara.

JTC sendiri dibentuk pada April 2005. Forum ini sudah dua kali diselenggarakan, satu kali Afrika Selatan, satu kali di Indonesia.

Pontas juga menyadari bahwa agar produk Indonesia bisa bersaing, setidaknya dengan negara-negara ASEAN lainnya, maka kerja sama bilateral dua negara untuk mencapai kesepakatan penurunan tarif harus ditingkatkan.

“Thailand sudah menurunkan tarif, Malaysia juga ada tarif khusus. Ini perlu agar produk kita lebih kompetitif di Afrika Selatan,” kata Pontas.

Ada forum lain yang bisa dimanfaatkan selain JTC.  Itu adalah KTT Bisnis Asia Afrika pada 21-22 April 2015 yang menjadi acara pendamping peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika dan 10 tahun Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika (NAASP).

Ajang ini akan menjadi tempat “saling berkenalan” bagi para pengusaha Asia dan Afrika, khususnya Indonesia dan Afrika Selatan.

Ketua Pelaksana KTT Bisnis Asia Afrika Noke Kiroyan mengatakan pertemuan itu bakal dihadiri 400 peserta, masing-masing 200 peserta dari Indonesia dan 200 peserta dari negara-negara Asia dan Afrika.

“Ada beberapa kepala negara yang akan menjadi keynote speaker (pembicara kunci) dalam acara ini. Ada baiknya kita dengar beberapa policy (kebijakan) dari beberapa kepala negara terkait upaya memajukan ekonomi di negaranya,” ujar Noke.

Dua kepala negara telah memastikan siap menjadi pembicara kunci. Keduanya adalah Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma dan Presiden Ethiopia Mulatu Thesome.

KTT Bisnis Asia Afrika sendiri akan fokus membahas empat bidang ekonomi, meliputi infrastruktur, perdagangan, agribisnis, kemaritiman, dan kelautan.

Tak hanya itu, forum itu juga akan membentuk Dewan Bisnis Asia Afrika (Asia Africa Business Council) yang akan menjadi media peningkat hubungan bisnis antar negara-negara Asia dan Afrika.

Indonesia harus maksimal memanfaatkan momentum ini, khususnya dalam rangka memperkuat cengkeraman pasar-pasar atraktif nan luas yang sudah begitu akrab dengan Indonesia, seperti Afrika Selatan, demi sehatnya neraca perdagangan dan ekonomi nasional.(Ant/ Jafar M Sidik)