Kisah Istri Shalehah

SEORANG ISTRI Arab Saudi menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata:
Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi.
Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya.
Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.
Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi.
Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu.
Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun .
Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma.
Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak.  95 persen organ otaknya telah rusak.
Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa’) tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya.
Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali.
Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya.
Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati.
Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.
Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.
Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur’an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya.
Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.
Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun.
Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.
Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya.
Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku…
Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.
Putriku bercerita :
Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.
Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, “Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??”
Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do’aku, “Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa ‘Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut’aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…
Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…
Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”
Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.
Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., “Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?”. Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…
Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, “Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!”. Maka aku berkata kepadanya, “Aku ini putrimu Asmaa'”. Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.
Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : “Subhaanallahu…”. Dokter yang lain dari Mesir berkata, “Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…”. Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..??
          Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa’ akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…
Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do’a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo’ kecuali do’a…barang siapa yang menjaga syari’at Allah maka Allah akan menjaganya.
Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…
Ini adalah kisahku sebagai ‘ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…
Maka ketuklah pintu langit dengan do’a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….
Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil ‘Aaalamiin.
Janganlah pernah putus asa…jika Tuhanmu adalah Allah. Cukup ketuklah pintunya dengan doamu yang tulus, Hiasilah do’amu dengan berhusnudzon kepada Allah Yang Maha Suci lalu yakinlah dengan pertolongan yang dekat dariNya…
(sumber : http://www.muslm.org/vb/archive/index.php/t-416953.html , Diterjemahkan oleh Firanda Andirja)

Muslimat NU Lahir dari Keinginan Pengakuan Terhadap Perempuan

JAKARTA – Muslimat NU Minggu (27/1) pagi ini memperingati harlah ke-73 di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) . Keberadaan organisasi tersebut tak terlepas dari sejarah panjang Nahdlatul Ulama (NU).

Organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut pendiriannya dimotori oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah, serta sejumlah kyai dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Mereka sepakat untuk membuat organisasi Islam terbesar di Indonesia yang kemudian hari dikenal sebagai NU.

Jika melongok ke belakang, sesuai yang dikisahkan oleh Ketua PBNU Robikin Emhas kepada CNNIndonesia.com, cikal bakal NU telah ada sejak 1914. Awal mula NU muncul ketika Kyai Wahab mulai mendirikan kelompok diskusi yang ia namai Taswirul Afkar atau Kawah Candradimuka Pemikiran, tepat pada tahun 1914.

Tak hanya Taswirul Afkar, muncul pula embrio lain yang kemudian merujuk ke satu organisasi besar NU. Embrio itu organisasi pergerakan Nahdlatul Waton atau Kebangkitan Tanah Air. Organisasi tersebut lahir pada 1916.

Setelah organisasi tersebut, lahir pula Nahdlatut Tujjar atau Kebangkitan Saudagar yang didirikan sekitar 1918. Untuk diketahui Nahdlatul Ulama (NU) sendiri disebut sebagai lanjutan dari komunitas dan organisasi-organisasi yang telah berdiri sebelumnya, namun dengan cakupan yang lebih luas.

Robikin kemudian mengatakan, organisasi Islam ini bukan berdiri hanya semata untuk belajar ilmu tauhid atau keislaman semata. Lebih dari itu, PBNU juga dijadikan ajang saling mendidik, berbagi wawasan serta literasi antar penganutnya.

Tak hanya itu, kata Robikin, NU juga dikenal sebagai organisasi yang tak mempertentangkan antara kebangsaan dan keislaman. NU kata dia menerima Pancasila sebagai lambang negara dan tak menuntut syariat Islam diterapkan secara formal.

“Singkatnya, NU didirikan untuk mengemban dua mandat; mandat keagamaan dan kebangsaan atau dikenal dengan sebutan mandat kenegaraan,” kata Robikin.

Perempuan NU

Memiliki cakupan keilmuan yang luas, membuat NU memiliki banyak pengikut tetap. Para pengikut tak hanya berasal dari kalangan pria. Banyak juga pengikut NU yang berasal dari kalangan perempuan. Mereka bahkan telah belajar di organisasi ini sejak usia muda.

Semula, NU memang dikenal sebagai organisasi yang pergerakan dan kepengurusannya dimotori oleh kaum lelaki. Namun, pada tahun 1938 muncul pergolakan dari kaum perempuan NU yang ingin adanya pengakuan bahwa mereka juga mesti memiliki kepengurusan yang sah, diakui dan tetap sebagai bagian dari tubuh NU.

Dari pergolakan itulah lahir cikal bakal organisasi Muslimat NU yang juga masih bagian dari PBNU itu sendiri.

Sebenarnya dalam PBNU kata Robikin, organisasi perempuan itu tak hanya Muslimat NU semata. Ada empat organisasi perempuan di bawah naungan NU yang dikelompokan dari mulai tingkat pelajar hingga NU yang usia anggotanya di atas 40-an.

“Ada empat organisasi perempuan di NU, yakni IPPNU, KOPRI, Fatayat NU, dan terakhir Muslimat NU,” katanya.

Dia pun menjelaskan dalam IPPNU atau Ikatan Pelajar Putri NU kebanyakan anggotanya adalah para pelajar sekolah menengah pertama (SMP) dan SMA.

“Mereka bergabung sejak usia sekolah SMP lah ya, sampai usia-usia SMA. Habis itu nanti naik tingkat,” kata Robikin.

Organisasi selanjutnya, setingkat lebih tinggi untuk jenjang usia para anggota yakni KOPRI atau Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri. “Anggotanya ya para mahasiswa putri,” katanya.

Baru selanjutnya kata Robikin organisasi perempuan lainnya yakni Fatayat NU dan Muslimat NU. Dijelaskan Robikin, Fatayat NU sendiri anggotanya merupakan perempuan NU pasca mahasiswa dan kebanyakan dari mereka belum berusia 40 tahun.

“Sementara untuk Muslimat NU ya anggotanya perempuan NU di atas 40 tahun,” kata dia.

Robikin pengelompokan atau segmentasi di kalangan perempuan NU ini tentu memiliki tujuan. Pengelompokan dilakukan agar pola kaderisasi lebih terarah dan jelas.

“Segmentasi perempuan NU berbasis usia ini agar pola kaderisasi lebih terarah dan medan perjuangannya jelas,” katanya.

Yang jelas kata Robikin memang bukan sesuatu yang aneh di NU terkait adanya perdebatan, termasuk soal pengelompokan organisasi perempuan ini.

“Semua berujung pada khidmah an-nahdliyyah, yakni untuk menyebarluaskan Islam moderat dan toleran, dan menjaga NKRI dengan segenap keragamannya,” kata dia menutup pembicaraan. (cnnindonesia.com)

DPR Didesak Segera Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual  

JAKARTA – SEJUMLAH organisasi perempuan mendesak anggota Dewan Perwakilan Rakyat untuk segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual ( RUU PKS). Desakan ini khususnya ditujukan pada Panitia Kerja Komisi VIII DPR.

“Kami meminta DPR RI, khususnya Panja Komisi VII memberi perhatian maksimal terhadap RUU ini dan dapat segera menuntaskan pembahasan RUU bersama pemerintah. Diharapkan bisa disahkan dalam periode ini tanpa mengurangi kualitasi substansi,” ujar Koordinator dari Jaringan Kerja Prolegnas Pro-Perempuan (JKP3) Ratna Butara Munti, dalam konferensi pers di Kantor Kongres Wanita Indonesua (Kowani), Jalan Imam Bonjol, Minggu (18/11/2018).

Ratna mengatakan, RUU PKS ini sudah menjadi RUU inisiatif DPR sejak Februari 2017. Namun, sampai saat ini tidak ada perkembangan yang berarti.

Sementara, sistem pembahasan Prolegnas di DPR tidak mengenal keberlanjutan dari periode sebelumnya.

“Bila RUU Penghapusan Kekerasan Seksual ini tidak maju juga dalam pembahasan tahun ini, maka bisa dipastikan RUU ini gagal disahkan dan artinya memulai kembali dari nol di DPR yang baru,” ujar Ratna.

“Artinya, upaya yang dilakukan selama ini sejak 2015 diusulkan oleh masyarakat sipil hingga berhasil masuk Prolegnas, jadi sia-sia,” tambah dia.

Desakan ini datang dari berbagai organisasi seperti JKP3, Cedaw Working Group Invitation (CWGI), Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Maju Perempuan Indonesia (MPI) dan Indonesia Feminist Lawyer Club (IFLC), dan PP Fatayat NU.

Ratna pun menyinggung berbagai kasus kekerasan seksual yang terungkap akhir-akhir ini. Salah satunya adalah kasus Baiq Nuril yang divonis bersalah oleh Mahkamah Agung. Padahal, ibu tiga anak itu telah divonis bebas oleh hakim saat sidang di Pengadilan Negeri Mataram dalam kasus dugaan penyebaran rekaman telepon asusila kepala sekolah SMU 7 Mataram.

Baiq Nuril Maknun adalah mantan pegawai honorer bagian Tata Usaha di SMU 7 Mataram, NTB. Dengan adanya kasus itu dan kasus lain, Ratna mengatakan, RUU ini sudah mendesak untuk disahkan menjadi UU. (kompas.com)

 

Deputi KPPA: Perempuan Perlu Dilibatkan Tangani Sanitasi dan Air Bersih

SEMARANG MELIBATKAN perempuan dalam penanganan masalah sanitasi dan air bersih, akan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan. Sejauh ini penangangan infrastruktur, hal yang berkaitan dengan lingkungan hidup masih didominasi laki-laki.

”Perlu mempertimbangkan kebutuhan dan peran yang berbeda antara perempuan dan laki-laki, baik di rumah tangga maupun masyarakat. Perempuan perlu dilibatkan,” kata Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Agustina Erni, Jumat (12/10), di Hotel Grand Arkenso Park View.

Di depan peserta Focus Group Discussion (FGD), Agustina menjelaskan perlunya percepatan pelaksanaan pengarusutamaan gender (PUG) bidang sanitasi dan air bersih, seperti yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 – 2019. Diskusi ini untuk mencari masukan dari masyarakat guna penyusunan kebijakan, baik di pusat maupun daerah, khususnya bagi institusi yang bertanggung jawab mengoordinisasikan pelaksanaan program tersebut.

Sementara itu, narasumber Hendy Hendharto menyatakan, dalam penyusunan program perlu fokus pada satu area atau daerah yang padat penduduk dengan tingkat kerentanan tinggi. Kurang terjaganya masalah sanitasi dan air bersih juga rentan terhadap penyakit infeksi, antara lain TBC dan diare. Di Jawa Tengah terdapat 112 kecamatan, 276 desa di 21 kabupaten/kota di Jateng terdampak kekeringan ekstrem. Paling parah Wonogiri dan Grobogan. ”Hampir 50% desa krisis air bersih,” kata Sri Winarna, PLT Kepala Dinas PPPA Pengendalian Penduduk dan KB Jawa Tengah saat membuka diskusi.

Menurutnya, perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam masalah air bersih dan sanitasi. Sebagai pengguna, penyedia, pengelola dalam rumah tangga, dan kesehatan keluarga. Perempuan dan anak merupakan kelompok yang paling rentan terdampak negatif bila akses air bersih dan sanitasi tidak dikelola secara adil dan merata. (Suaramerdeka.com)

Menteri Yohana: Wanita di Banten Rawan Jadi Korban Perdagangan Oran

SERANG – MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise mengatakan, perempuan Banten berpotensi jadi korban tindak pidana penjualan orang (TPPO). Daerah ini masuk zona merah bersama Jabar, Jatim, Jateng, NTT dan NTB, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Selatan.

Yohana bercerita, ia beberapa kali mengunjungi shelter korban perdagangan orang di beberapa negara. Ia sering mendapati korban perdangan orang dari Banten. Mereka diiming-imingi bekerja di luar negeri tapi kemudian jadi korban.

“Banten termasuk salah satu banyak korban perempuan yang percaya iming-iming kelompok tertentu. Kalau ke luar negeri pasti kerja, ternyata tidak,” kata Yohana di Alun-alun Barat Kota Serang, Banten, Minggu (23/9/2018).

Kebanyakan korban perdagangan orang ini, Yohana mengatakan menerima berbagai kekerasan dan penganiayaan. Mereka kemudian harus mengungsi di shelter dan kembali ke kedutaan.

“Dijanjikan bekerja di perusahaan tinggi tapi akhirnya mereka dieksploitasi dan ada kekerasan seksual. Jangan tergiur oleh iming-iming orang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.

Para korban ini juga dikatakan mengalami banyak kendala saat berada di luar negeri. Selain adat dan bahasa, perempuan korban perdagangan rang sering ditipu oleh sindikat dan rugi puluhan juta Rupiah.

“Saya mempelajari di Banten terutama di daerah pinggiran kota khusus banyak ibu-ibu belum diberdayakan dan memerlukan perhatian khusus. Karena kekerasan terhadap perempuan adan anak cukup tinggi dan jadi perhatian pemerintah,” terangnya.

Kementerian saat ini Yohana menerangkan sedang berjuang agar tingkat kekerasan dan perdagangan orang terhadap perempuan dan anak berkurang di Banten. Ada indikasi penurunan dengan adanya kabupaten yang ramah perempuan dan anak. Ia pun meminta, tingkat provinsi agar melakukan hal serupa dengan memberdayakan perempuan agar tidak menjadi korban penjualan orang. (detik.com)

Menteri PPPA: Kekerasan pada Anak dan Perempuan Harus Diakhiri

MALUKU UTARA – PEMAHAMAN dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak belum sepenuhnya dipahami masyarakat. Perlu ada sinergi dalam mengatasi permasalahan perempuan dan anak yang kompleks ini.

Seluruh elemen, mulai dari orang tua dalam keluarga, guru di sekolah, pemerintah pusat dan daerah, media massa dan masyarakat, perlu memahami masalah tersebut. Kita semua tentu berharap agar kelak, kekerasan terhadap perempuan dan anak di negeri ini bisa terus dikurangi, dicegah, bahkan diakhiri.

Untuk mengatasinya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) telah mencanangkan program unggulan dalam upaya mengakhiri kekerasan pada perempuan dan anak. “Three Ends” menjadi program yang diharapkan dapat merangkul semua elemen anak negeri untuk bergerak bersama mengatasi masalah ini.

Tiga masalah utama yang harus diakhiri adalah kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan manusia, dan kesenjangan ekonomi.

“Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukanlah tindakan terpuji dan harus segera diakhiri. Fakta lain yang membuat saya miris adalah, mayoritas pelaku kekerasan dan eksploitasi perempuan dan anak, ternyata orang dekat korban. Kebanyakan pelaku ternyata merupakan orang-orang yang biasa tinggal satu rumah dengan mereka, atau berada satu lingkungan dengan mereka,” ujar Menteri PPPA, Yohana Susana Yembise, dalam dialog bersama peserta seminar Three Ends, yang bertema “Sinergi dan Kolaborasi Peran untuk Komitmen Perlindungan Perempuan dan Anak”, di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara.

Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak, Lenny N Rosalin, menambahkan, KemenPPPA mempunyai program yang sifatnya pencegahan kekerasan terhadap anak. Salah satunya partisipasi anak dalam Forum Anak.

“Strategi pencegahan kekerasan terhadap anak dapat dilakukan mulai dari lingkungan terdekat anak, yakni keluarga. Keluarga adalah pengasuh pertama anak yang berpengaruh dalam membangun karakter. Keluarga juga merupakan tempat anak-anak memperoleh hak-haknya, sekaligus tempat mereka mengembangkan bakat, minat dan kemampuannya dalam suasana yang menyenangkan. Kami juga sangat mendukung partisipasi anak dalam Forum Anak, karena di situ, anak diajarkan cara menghadapi tindak kekerasan dan bagaimana anak dapat aktif berpartisipasi dalam berbagai bidang,” katanya. (Suara.com)

Bertemu Emak-Emak, Menhub Beberkan Prioritas Presiden Jokowi

JAKARTA – MENTERI Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan, konektivitas infrastruktur di tingkat daerah dan skala nasional akan menjadi tugas berkelanjutan. Program lanjutan tersebut menjadi prioritas penting Presiden Joko Widodo.

Acara tersebut, dihadiri juga Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Komisaris Jenderal Polisi  M Iriawan dan Wali Kota Bogor Bima Arya.

“Amanah Jokowi kepada saya adalah menyambungkan konektivitas dan ini harus terus dilaksanakan, bukan sekadar sampai di sini. Bagaimana Indonesia ini disatukan dengan konektvitas,” ujar Budi kepada para ibu peserta dialog. (viva.co.id)

Bahaya Sering Kerja Lembur Bagi Wanita, Stres Hingga Infertilitas

Kerja lembur dapat membuat seseorang kekurangan tidur dan mengacaukan ritme sirkadian atau proses biologis tubuh. Dalam beberapa studi, disebutkan bahwa kebiasaan lembur ini bisa meningkatkan risiko terkena berbagai penyakit di kemudian hari. Para wanita harus waspada, pasalnya lembur dapat berdampak terhadap kesehatan reproduksi dan kesuburan, lho!

Studi dari Ohio State University menunjukkan bahwa wanita yang bekerja 60 jam atau lebih dalam seminggu, 3 kali lipat berisiko mengalami diabetes, kanker, dan masalah jantung. Wanita hampir 4 kali lebih berisiko mengalami artritis dan 3 kali lebih berisiko mengalami asma akibat kebanyakan bekerja.

“Wanita, terutama yang mengemban banyak peran, akan merasakan efek akibat bekerja secara intensif, sehingga rentan mengalami penyakit dan disabilitas,” ujar Allard Dembe, profesor di bidang pelayanan dan kebiajakan kesehatan, sekaligus pemimpin studi. Sedangkan pada pria yang sering kerja lembur, masalah kesehatan yang dihadapi tidak seberat wanita.

Dilansir melalui news.osu.edu, wanita memiliki banyak tanggung jawab dalam keluarga dan kemungkinan menghadapi lebih banyak stres dan tekanan dibandingkan dengan pria ketika kerja lembur. Padahal menurut Lizette Bester, eksekutif dari Agility Corporate, sebuah perusahaan manjemen risiko pada karyawan, wanita yang memiliki kadar stres yang tinggi diasosiasikan dengan hipertensi dan insomnia, yang dapat memicu masalah psikologis. Dikutip dari iol.co.za, Bester menambahkan, stres juga dapat membuat tubuh melepaskan hormon kortisol dalam level yang tinggi.

“Ini dapat mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan gula darah dan gangguan kekebalan tubuh. Konsekuensi yang paling sering terjadi dari kerja lembur secara konstan adalah jadi mudah marah, mengalami kecemasan, dan depresi. Ini tentunya akan memengaruhi hubungan dengan orang-orang di rumah dan tempat kerja, yang berujung pada stres dan masalah lainnya, baik secara personal maupun profesional,” ungkapnya.

Lebih Sulit Punya Anak

Kamu sering mengalami gangguan menstruasi? Bisa jadi penyebabnya adalah keseringan lembur! Ya, dalam pertemuan tahunan European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE), studi yang dilaporkan oleh dr. Linden Stocker dari University of Southampton, Inggris, mengindikasikan bahwa pola kerja lembur juga diasosiasikan dengan meningkatnya gangguan menstruasi dan subfertilitas.

Studi ini merupakan meta analisis dari seluruh studi yang dipublikasikan pada 1969 hingga Januari 2013. Studi yang menyertakan data dari 119.345 wanita ini, menemukan bahwa kerja lembur meningkatkan 33% risiko gangguan menstruasi dibandingkan dengan memiliki jam kerja normal. Studi juga menunjukkan bahwa kerja lembur meningkatkan 80% kemungkinan untuk mengalami ketidaksuburan, seperti dilansir melalui sciencedaily.com.

Sesuai dengan Undang-undang di Indonesia, lembur hanya diperbolehkan sebanyak 3 jam dalam sehari, baik itu untuk wanita maupun pria. Selain itu, wanita di bawah usia 18 tahun serta ibu hamil yang mengantongi surat rekomendasi dari dokter juga dilarang bekerja antara pukul 23.00 hingga pukul 07.00. Bila ini dilanggar, maka pengusaha atau perusahaan tempat mereka bekerja dapat dikenakan saksi pidana denda hingga 50 juta rupiah, lho. Kamu harus selalu mengutamakan kesehatan Kamu ya, Gengs. Sebaiknya hindari kerja lembur jika tidak benar-benar diperlukan. Sesekali boleh, asal jangan dijadikan kebiasaan. Bagilah waktu dengan baik antara keluarga, pekerjaan, dan istirahat. Ingat, kehidupanmu tidak hanya untuk selalu bekerja. Salam sehat! (Vicva.co.id)

 

Perempuan Punya Peran Bentuk Karakter Bangsa

MAKASSAR –  SEKRETARIS Jenderal (Sesjen) MPR Ma’ruf Cahyono, menggugah kesadaran perempuan yang tergabung dalam organisasi Wanita Syarikat Islam (WSI) Provinsi Sulawesi Selatan untuk merawat dan menjaga jatidiri bangsa, yang tak lain adalah Pancasila.

Ma’ruf  Cahyono menyampaikan hal itu di depan ratusan tokoh WSI Provinsi Sulawesi Selatan di Aula Balai Kota Makassar, Jumat siang (10/8). “Dalam hal Empat Pilar saya lebih suka menggunakan istilah menyegarkan kembali daripada sosialisasi,” ujar penyandang gelar doktor dalam Ilmu Hukum ini.

Tentu Ma’ruf Cahyono punya  alasan kenapa ia lebih suka menggunakan istilah menyegarkan.

“Karena pada dasarnya jatidiri bangsa itu sudah ada di dalam diri kita sejak kecil yang diajarkan lewat pendidikan di sekolah,” ungkap Ma’ruf Cahyono yang mengawali ceramahnya dengan membacakan puisi “Ini Indonesia,” sebuah puisi yang bercerita tentang Ke-Indonesia-an.

”Indonesia kita adalah jatidiri kita. Jatidiri kita adalah Pancasila,” katanya.

Oleh karena itu, menurut Ma’ruf Cahyono, perlu menyampaikan pesan tentang jatidiri bangsa seperti yang terkandung dalam lima sila Pamcasila. “Kita punya nilai-nilai yang bagus, karenanya perlu dirawat dan dijaga,” ujarnya.

Ma’ruf Cahyono juga menjelaskan jatidiri bangsa sebagaimana terkandung dalam lima sila Pancasila. Salah satu upaya yang dilakukan oleh MPR untuk merawat dan menjaga jatidiri bangsa adalah melalui sosialisasi Empat Pikar. Kali ini yang menjadi sasaran

kelompok Wanita Syarikat Islam. Tujuannya, jelas Ma’ruf Cahyono, agar anggota perlimpulam ini menjadi tahu, mengerti, paham, dan melaksanakan nilai-nilai Empat Pilar.

Wanita Syarikat Islam sebagai sebuah perkumpulan, apalagi ada di seluruh Indonesia, menurut Ma’ruf, merupakan kelompok sasaran yang sangat strategis. Karena itu, dia berharap, para tokoh Wanita Syarikat Islam ini bisa menularkan aspirasi terkait Empat Pilar MPR kepada masyarakat lingkungannya, dan tentunya juga di lingkungan keluarganya.

Karena bagaimanapun, lanjut Ma’ruf, pembentukan karakter bangsa dimulai  dari keluarga, dan itu akan bergerak sampai pada di mana bangsa ini menjadi kokoh dari segi jatidiri. “Kita ingin transformasi nilai ini bisa efektif dan bisa dilaksanakan, dengan harapan akan memiliki danpak penting terhadap semakin kuat dan kokohnya ideologi bangsa,” kata Ma’ruf.

Acara yang diselenggarakan MPR bekerja sama dengan Pimpinan Pusat WSI dan Pimpinan Wilayah WSI Sulawesi Selatan ini dihadiri oleh Walikota Makassar Ir. H. Ramdhan Pomanto, Ketua PImpinan Pusat WSI Dr. Hj. Valina Sinka Subekti, Sekjen PImpinan Pusat WSI Chairunnisa Yusuf, dan undangan  lainnya. (suaramerdeka.com)

Perempuan Indonesia Selalu Kuat Meski Tidak Dianggap

JAKARTA – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise menyatakan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan semakin meningkat.

Terlepas dari hal itu, aktivis perempuan dan anak Ipung Sitisapura membenarkan hal tersebut. Bahkan ia menambahkan jika kasus kekerasan sudah sampai ada yang cacat permanen hingga meninggal dunia. Menurutnya, pemerintahan Indonesia bukan hanya lagi diam saja menanggapi hal ini.

“Kalau saya bisa katakan saya sendiri menyesal menjadi perempuan namun bagaimanapun ini takdir saya menjadi perempuan di Indonesia, sehingga kasus kekerasan terhadap perempuan harus ditanggapi dengan serius bukan main-main lagi atau hanya sekadar imbauan-imbauan,” ucap Ipung kepada Pro 3 RRI, Minggu (29/4/2018).

Menurut Ipung, di lingkungan kata-kata perempuan hanyalah pelacur dan ucapan lain sebagainya yang menjelekkan perempuan sudah biasa diterima. Namun, hal tersebut hanyalah sebagian kecil dari kekerasan yang dirasakan perempuan.

“Di Indonesia ini apalagi budaya patrilinealnya kuat kan maka bisa dibilang perempuan sangat kuat meskipun selalu tidak dianggap atau di nomor duakan, karena menjadi seperti itu tidaklah mudah hingga tidak berani memberontak,” imbuhnya. (rri.co.id)