Cegah Difteri, AMPI DKI Gelar Kegiatan Gerakan AMPI DKI Sehat

JAKARTA – Berdasarkan data yang dihimpun di wilayah provinsi DKI Jakarta, di sepanjang 2017 lalu terjadi sebanyak 109 kasus difteri di seluruh penjuru wilayah. Sedangkan pada awal tahun 2018 bedasarkan data Kementrian Kesehatan, sudah terdapat 46 kasus baru ifteri yang dilaporkan dari 7 provinsi, salah satunya adalah DKI Jakarta. Dikarenakan adanya lonjakan tersebut, kasus difteri di DKI Jakarta pun berstatus kejadian luar biasa (KLB) sehingga ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk turut berpartisipasi dalam usaha penanggulangan difteri secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Menjawab hal tersebut, pada Minggu pagi (18/2/2018) DPD AMPI DKI Jakarta mengadakan gerakan #AMPIDKISEHAT bersama dengan berbagai lapisan dan elemen masyarakat dan warga sekitar. Gerakan tersebut dilaksanakan berpusat di kantor DPD Partai Golkar DKI Jakarta, Cikini, Jakarta Pusat.

Dengan fokus utama pada acara penyuluhan dan penyuntikan vaksin Difteri, gerakan ini merupakan salah satu bentuk usaha AMPI DKI Jakarta dalam mendukung program prioritas pemerintah pusat dan DKI Jakarta yaitu Outbreak Response Immunization (ORI) dan Antidifteri Serum (ADS) untuk pengobatan pasien difteri yang membutuhkan, khususnya di DKI Jakarta.

Di sela acara, Gaya Kartasasmita selaku Ketua DPD AMPI (Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia) DKI Jakarta juga menyampaikan kepada masyarakat provinsi DKI Jakarta akan bahaya difteri bukan hanya pada kalangan anak-anak namun juga orang dewasa. Sehingga, untuk merealisasikan dukungan mereka terhadap pemerintah, DPD AMPI DKI Jakarta membantu dengan melakukan pemberian vaksin difteri massal secara gratis kepada masyarakat DKI Jakarta, khususnya kepada orang dewasa di atas usia 19 tahun melalui acara #AMPIDKISEHAT.

Acara yang diawali dengan olahraga lari pagi bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno ini, lalu dibuka secara seremonial dengan melakukan diskusi mengenai pentingnya menjaga gaya hidup sehat & menjadi pemuda yang membawa pembaharuan serta perubahan penting untuk bangsa sebagaimana yang disampaikan oleh Dito Ariotedjo selaku Ketua Umum DPP AMPI, lalu dilanjutkan dengan mengajak masyarakat untuk berolahraga zumba bersama.

Pemberian vaksin difteri terlaksana melalui kerjasama antara DPD AMPI DKI Jakarta dengan KARTINI AMPI yang diketuai oleh Andi Fauziah Pujiwatie Hatta (Ichi). Dalam kesempatan yang sama, baik Gaya dan Ichi menyampaikan, bahwa kegiatan ini diharapkan dapat berjalan secara kontinyu dan dapat ditiru oleh lainnya, sehingga dapat menyentuh dan memberikan pengaruh yang baik secara langsung ke masyarakat yang membutuhkan. (zul)

Menag dan Grand Mufti Mesir Kerjasama Soal Pendidikan Fatwa

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Grand Mufti Mesir Shawqi Ibrahim Allam sepakat untuk mengadakan kerjasama dalam pendidikan di bidang fatwa.

Kesepakatan ini tercapai dalam pertemuan antara Menag dengan Grand Mufti Mesir di Majelis Fatwa Mesir, Kairo, Kamis (18/01/2018). Sebelumnya, Menag menjadi salah satu pembicara pada Konferensi Internasional untuk Membela Al-Quds yang digelar oleh Al Azhar University.

“Saya menawarkan kerjasama dengan Grand Mufti Mesir untuk memperkuat para ulama pondok pesantren, akademisi, cendekia, dan para tokoh ormas Islam untuk mendapatkan pelatihan dalam pembuatan fatwa sesuai tradisi keilmuan dan pengalaman Mesir selama ini,” terang Menag.

Menurutnya, pelatihan ini akan dilakukan selama 1 atau 2 bulan penuh. Harapannya, selain memperkuat kompetensi para peserta, juga meningkatkan wawasan dan kearifan dalam menyikapi perbedaan, sehingga berkontribusi dalam menciptakan kedamaian dan peradaban dunia dengan tampilan Islam rahmatan lil alamin.

Tawaran kerjasama dari Menag ini disambut baik oleh Grand Mufti Mesir. Shawqi Ibrahim Allam menilai arus informasi global menjadi tantangan bagi umat untuk bisa menampilkan wajah Islam yang damai dengan metodologi penetapan hukum (istimbath) yang ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Masyarakat harus diedukasi untuk memahami rujukan ajaran Islam yang otoritatif, sehingga bisa memilih dan selektif terhadap informasi yang berkembang, juga mampu menyaring ajaran Islam yang menyimpang,” tuturnya.

Menurut Shawqi, publik harus tahu dan melihat ajaran Islam, tidak sebatas pada simbolnya saja, seperti peci, jubah dan aksesoris lainnya. Lebih dari itu, Islam haruslah dilihat dari apa yang terefleksi dari isi kepala dan hati umatnya.

“Islam bukan dinilai atas apa-apa yang dikenakan pada kepala (fisik) kita, tapi tercermin dari isi di kepala dan hati kita. Tentunya kita ingin seorang Muslim yang memiliki hati yang bersih, dan inilah gambaran atau wajah Islam yang harus ditampilkan dengan wujud akhlak dan perilaku yang baik,” jelasnya.

“Jadi tampilkanlah wajah Islam yang dirindukan, yang ramah dan membawa kedamaian dan kesejukan,” sambungnya.

Shawqi mengatakan, jika ada orang yang memahami keliru tentang Islam, lalu menampilkan wajah yang penuh kekerasan dan kebencian, maka menjadi tugas bersama untuk meluruskannya.

Selain itu, lanjut Shawqi, umat Islam juga perlu diedukasi bahwa dalam memahami teks keagamaan, dibutuhkan kemampuan mendalam tentang bahasa Arab dan berbagai perangkat ilmu lainnya. Hal ini penting, agar umat tidak mudah terjebak pada penafsiran yang tekstualis semata.

Grand Mufti Mesir ini mencontohkan penafsiran salah satu ayat pada QS Al-Bara’ah, “Faqtulul musyrikiina haytsu wajadtumuuhum” (bunuhlah orang-orang musyrik di mana saja kamu dapati mereka). Menurutnya, kata al-musyrikiin pada ayat ini tidak bisa digeneralisasi kepada seluruh orang musyrik. Sebab, kata tersebut didahului dengan alif dan lam (al) yang menunjukan makna khusus (ta’rif). Yaitu, kaum musyrik pada zaman nabi yang selalu memusuhi dakwah dan perjuangannya.

Demikian juga dalam pemahaman hadits, umirtu an uqatila an-nas. Kata an-nas(manusia) disertai alif dan lam (al) yang juga menunjukan makna khusus. Bukan semua manusia, tetapi tertuju pada mereka yang selalu memusuhi umat Islam. “Dan masih banyak contoh pemahaman yang keliru lainnya yang perlu kita luruskan bersama,” tegas Grand Mufti.

Senada dengan Grand Mufti, Menag menegaskan pentingnya menambah dan memperluas wawasan dan pemahaman keagamaan umat, sehingga mampu menangkap esensi ajaran Islam. Pertemuan selama lebih dari 1 jam itu berlangsung begitu akrab dan penuh kekeluargaan. (Kemenag/Zfd)