Sarimaya Terpilih Sebagai Ketua Srikandi Pemuda Pancasila

Jakarta  – Hajjah Sarimaya, SE terpilih kembali secara aklamasi sebagai Ketua Dewan Pimpinan Nasional Srikandi Pemuda Pancasila dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-1 Srikandi Pemuda Pancasila yang berlangsung 1-3 Mei di Hotel Sultan Jakarta. Munas pertama ini diikuti utusan dari 33 Provinsi ini disamping menetapkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Srikandi Pemuda Pancasila sebagai lembaga otonom dibawah naungan Pemuda Pancasila juga menetapkan program dan memilih ketua Dewan Pimpinan Nasional.

Sebagai ketua terpilih, pengusaha sektor keuangan ini menegaskan niatnya untuk mengembangkan kaderisasi dan peningkatan sumberdaya Srikandi Pemuda Pancasila sebagai kader bangsa khususnya dalam pengembangan nilai nilai pancasila dan pemberdayaan perempuan Indonesia. “Kami akan kembangkan potensi perempuan dalam sisi moral dan pengembangan keterampilan,” katanya.

Di bidang ekonomi, menurut Sarimaya Perempuan harus didorong untuk mengembangkan kemampuan dan kemandirian. Langkah yang diambil adalah dengan memberikan bantuan modal dan pengembangan pemasaran. “Pelatihan, kemitraan dan bantuan modal mutlak diperlukan agar potensi ekonomi perempuan Indonesia dapat berkembang,” ujar Sarimaya ketika memberikan Pidato Pengukuhan sebagai Ketua Umum DPN Srikandi PP, Sabtu Malam (2/5/2015)

Ia mengucapkan terimakasih atas kepercayaan yang diberikan sebagai Ketua Srikandi PP dan meminta dukungan semua pihak untuk menjalankan program program Srikandi Pemuda Pancasila periode 2015-2019.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila Sakhyan Asmara dalam penutupan Munas meminta kepada seluruh anggota Srikandi Pemuda Pancasila untuk terus mensosialisasikan Pancasila kepada segenap masyarakat.

Ia menyampaikan keprihatinan karena banyak kalangan masyarakat yang kini bahkan tidak mengerti arti pentingnya Pancasila sebagai moral dan dasar negara. “Banyak yang tidak hapal Pancasila, ini memprihatinkan,” katanya.

Dengan potensi sebagai kaum ibu yang mendidik anak bangsa, Sakhyan meminta Srikandi PP mensosialisasikan terus isi dan makna Pancasila bagi segenap anak bangsa. “Setiap ada momentum atau kegiatan, wajib dibacakan pancasila,” katanya.

Pancasila Ideologi Pemersatu Bangsa

Munas ke-1 Srikandi Pemuda Pancasila yang dibuka Ketua Majelis Nasional Pemuda Pancasila Japto S Soeryosoemarno berlangsung semarak dan menghadirkan berbagai tokoh termasuk putri proklamator Rachmawati Soekarno dan Meutia Hatta dan Putri mantan Presiden ke-2 Mamiek Soeharto, anggota DPR Okky Asokawati dan seniman Ratna Sarumpaet.

Putri Proklamator Bung Hatta, Meutia Hatta kepada peserta Munas Srikandi Pemuda Pancasila menegaskan tak ada keraguan lagi bahwa Pancasila itu merupakan ideologi pemersatu bangsa. Untuk itu keberadaannya harus dipertahankan, sebab tanpa Pancasila maka keberadaan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) dipastikan tak ada lagi.

“Pancasila itu dasar negara kita. Dan yang melahirkannya adalah Bung Karno. Bahkan penegasan ini dinyatakan langsung Bung Hatta dalam surat wasiatnya kepada putra Bung Karno (Guntur Soekarnoputra). Dan saya yakin surat wasiat itu pun masih ada dan disimpan Mas Guntur,” kata Meutia Hatta.

Meutia yang pernah menjabat sebagai menteri pemberdayaan perempuan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengatakan dalam surat wasiat yang ditujukan kepada Guntur itu sebenarnya berisi dua hal. Pertama pernyataan dari Bung Hatta bahwa yang melahirkan Pancasila adalah Bung Karno. Ini penting karena pada saat surat wasiat dituliskan, yakni pada awal 1980-an, berkembang pernyataan yang meragukan Bung Karno adalah penggali Pancasila.

“Isi wasiat kedua adalah berisi pernyataan Bung Hatta yang tidak bersedia dimakamkan di Taman Pahlawan. Beliau ingin bila meninggal dunia jenazahnya di makamkan di pemakaman umum biasa. Ini agar beliau tetap dekat dengan rakyat yang sepanjang hidupnya memang diperjuangkannya,” ujar Meutia.

Menurut Meutia, pada saat ini ada satu hal yang sangat penting dan terus diperjuangkan seluruh elemen bangsa. Selain tetap menjadikan Pancasila sebagai dasar negara, ketaatan pada konstitusi juga harus dijadikan pegangan bagi semua pihak, terutama para penyelenggara negara yang berada di eksekutif, yudikatif, dan legislatif. (Toha)

Nurul Arifin Minta Srikandi Pemuda Pancasila Siap Hadapi MEA 2015

Jakarta – Staf ahli Ketua DPR RI Nurul Arifin meminta Srikandi Pemuda Pancasila agar menyiapkan sumber daya manusia dan kompetensinya dalam memasuki kesiapan Indonesia dalam pasar regional Asean dikenal dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015.

“Kaum Srikandi Pemuda Pancasila harus siap memasuki era globalisasi MEA 2015,” ujar Nurul ketika menjadi pembicara pada Musyawarah Nasional I Srikandi Pemuda Pancasila tahun 2015 di Jakarta, Sabtu (2/5/2015)

Menurut Nurul, kesiapan SDM Srikandi Pemuda Pancasila ini dicirikan dengan kemampuan berkomunikasi dengan bahasa Inggris yang baik dan kemampuan memakai smartphone agar bisa berinteraksi dengan media sosial seperti facebook dan twitter. Kemampuan berkomunikasi ini penting agar kaum perempuan tidak teralineasi dengan modernisasi.

Dia melihat, bahwa upaya untuk meningkatkan kemampuan kaum perempuan harus dimulai dari perempuan itu sendiri. Karena itu, dia melihat masih relevannya ajaran Kartini tentang perlunya kaum perempuan Indonesia bangkit dari ketertinggalannya dalam semua bidang harus dilakukan.

Kalau kita maju dan mandiri, kata pemilik nama lengkap Nurul Qomaril Arifin ini maka posisi tawar kaum perempuan semakin lebih tinggi.

“Jangan takut dengan dogma-dogma dan doktrin yang berkeliaran. Maju terus perempuan Indonesia,” pekik Nurul.

Terkait UU Perkawinan Tahun 1974, dia mengatakan bahwa perlu ada revisi UU Perkawinan khususnya soal batasan usia pernikahan. Di dalam UU itu disebutkan bahwa batas minimal usia nikah untuk perempuan adalah 15 tahun dan untuk laki-laki 18 tahun. Menurut Nurul, batasan itu harus direvisi minimal 20 tahun untuk wanita dan 25 untuk pria.

“Saya tidak tahu kenapa sampai hari ini tidak jalan, Dia melihat mungkin tantangan itu datang dari pemuka-pemuka agama dari desa. Padahal dari usia biologis usia 15 tahun perempuan belum siap dan juga bagi laki-laki usia 18 tahun secara psikis juga belum siap,” paparnya.

Kepada anggota Srikandi PP Nurul mengajak mereka untuk terus memperjuangkan revisi usia batasan usia ini agar tidak banyak perceraian yang terjadi karena usia perkawinan yang masih dini ini. (zul)

Blocking Seats

Adapun untuk soal penjatahan 30 persen kursi perempuan di legislatif, Nurul melihat hal itu seharusnya sebagai jatah dan bukan hasil dari perolehan suara. Karena itu, negara harus terlibat dalam hal ini dan tidak bisa dilepaskan pada mekanisme perolehan suara. Dengan demikian maka jatah kursi 30 persen itu merupakan hak perempuan dan bukannya hasil dari perolehan suara,

“Jadi sebaiknya harus ada blocking seats untuk kursi perempuan di parlemen,” harapnya.

Nurul memahami, tantangan blocking seats ini akan datang dari kaum lelaki. Ini harus terus diperjuangkan blocking seat dan perolehan itu tidak harus dari pemilu.

“Kalau negara tidak melakukan blocking seat maka perjuangan kaum perempuan akan susah,” pungkas artis yang membintangi film Nagabonar ini. (zul)

Belinda Rosalina Sukses Lakoni Empat Profesi

Jakarta– Belinda Rosalina salah seorang wanita hebat di Indonesia yang melakoni empat profesi sekaligus, yakni pelukis, desainer interior, lawyer, dan dosen. Ia total menjalani keempat profesi tersebut dan meraih kesuksesan.

Ocha, panggilan akrabnya, hobi melukis sejak remaja. Awalnya Ocha diberi satu set peralatan melukis oleh ibunya. Ocha mengisi waktu luangnya dengan melukis. Ternyata karya-karyanya mendapat acungan jempol dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan seniman. Hal itu semakin memacu semangatnya untuk terus berkarya. Hingga kini terkumpul ratusan lukisan hasil karyanya.

Perempuan kelahiran Jakarta, 23 April 1978 ini pernah menggelar pameran tunggal pada 1995, dan hasilnya memuaskan. Saat itu semua lukisannya terjual. Prestasinya tersebut mendapat apresiasi dari banyak kalangan. Ocha bahkan mendapat beasiswa bidang seni di sebuah universitas bergengsi di Paris. Namun lantaran ingin meneruskan profesi sang ibu sebagai lawyer, Ocha melewatkan peluang emas itu, dan mantap meneruskan pendidikan di bidang hukum hingga S3.

Bakat seninya ia pelajari secara otodidak. Tengok saja desain interior hasil karyanya pada beberapa hotel-hotel berbintang dalam jaringan KAGUM Hotels Management. Misalnya desain interior enam Hotel Amaroossa yang tersebar di Bandung, Bogor, Jakarta, Bekasi dan Bali merupakan maha karyanya. Hotel bintang empat dengan desain interior mewah ala Eropa ini juga dipenuhi lukisan-lukisan indah hasil karyanya. Keserasian interior desain, lampu-lampu mewah plus lukisan tersebut sontak mengundang decak kagum para tamu.

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini menyukai bidang seni sejak kecil. Kala itu ia memanfaatkan waktu luangnya dengan mengerjakan segala sesuatu yang mengasah kreativitasnya. Sejak kecil Ocha gemar membuat bantal, kursi, tas, dan bahkan pernah membuat rumah Barbie dari kardus karena tak berani minta uang pada orang tua untuk membeli rumah Barbie.

Ocha lulus S1 Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) tahun 2000. Selanjutnya mengambil S2 Hukum di Melbourne University dan lulus tahun 2001. Tak pernah di situ, ia melanjutkan pendidikannya dengan mengambil S3 Hukum di UI dan lulus tahun 2010.

Dia mengajar ilmu hukum pascasarjana di UI. Ia pernah diminta untuk mengajar di universitas lain, namun ia menolak secara halus karena ia hanya ingin mengabdi pada almamaternya.

Profesi lain yang melejitkan namanya adalah lawyer. Ocha banyak menangani kasus-kasus sengketa merek terkenal, yakni Hitachi, Neurobion vs Bioneuron, dan lain-lain. Dan hebatnya, ia memenangkan kasus-kasus yang ditanganinya.

Ketika disinggung apakah tertarik terjun ke dunia politik, Ocha menggeleng. “Saya tidak pernah tertarik dunia politik karena membingungkan dan unpredictable. Dalam dunia politik itu yang benar bisa salah, dan yang salah bisa benar. Sekarang naik besok bisa jatuh, atau sebaliknya. Dan sahabat bisa jadi lawan, dan sebaliknya. Jadi bagi saya agak mengerikan,” kata Ocha kepada obsessionnews.com, Rabu (15/4/2015) petang.

Wanita yang ramai ini menambahkan dia lebih senang yang damai-damai saja supaya tidur tetap nyenyak dan keluarga juga tenang. “Mau dapet uang sebesar apapun saya tetap tidak tertarik pada dunia politik, karena bagi saya banyak uang tapi hidup nggak tenang sama saja bohong. Mengenai apabila terjun di politik dapat membantu negara, saya rasa masing-masing sudah ada peranannya. Masih banyak hal lain yang bisa saya sumbangkan bagi sekitar tanpa harus terjun di politik. I am a safe player,” tandasnya.

Di tengah aktivitasnya menjalani empat profesi, Ocha tak melupakan perannya sebagai seorang ibu. Ia memiliki tiga anak, yakni Klea, Bertram, dan Gregory. Ocha menyadari ketiga anaknya yang masih kecil sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya. Ia menyediakan waktu khusus untuk mereka pada Sabtu dan Minggu.

“Saya bekerja keras untuk anak-anak. Jadi saya mau mereka senang, dan saya persiapkan semua dengan maksimal, seperti pendidikan, saya beri yang terbaik, saya datangkan guru les, dan sekolah yang terbaik. Saya ingin kelak mereka menjadi orang sukses melebihi ibunya,” ujarnya dengan penuh semangat. (Suci Yulianita /Arif RH)

 

Rahayu Djoyohadikusumo Komentari Ahok

Jakarta – Anggota Komisi VIII DPR RI Rahayu Saraswati Djojohadikusumo mengecam bila Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menghidupkan kembali komplek prostitusi.

“Kami menyemangati masyarakat dan Polri untuk memperkarakannya dengan memanfaatkan pasal 296 KUHP,” kata Rahayu di dalam rilis yang diterima ANTARA News, Jakarta, Selasa.

Rahayu mengutip Pasal 296 KUHP menyebutkan “barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul oleh orang lain dengan orang lain, dan menjadikannya sebagai pencarian atau kebiasaan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak lima belas ribu rupiah.

Dia mengemukakan prostitusi harus dipahami sebagai bentuk kejahatan dan dapat menjadi bentuk perdagangan orang.

Menurut dia lokalisasi prostitusi tidak akan serta-merta menghilangkan bisnis prostitusi di kawasan-kawasan perumahan maupun perhotelan.

“Dengan perspektif tersebut, pemikiran untuk melokalisasi prostitusi jelas didasarkan pada pertimbangan parsial. Bahkan, kami tidak ragu untuk menyebutnya sebagai bentuk pendangkalan isu atas kegagalan Pemerintah DKI dalam menertibkan peruntukan bangunan-bangunan dan penguatan Kelurahan, RT, RW untuk menciptakan ketertiban lingkungan,” katanya. (Ant/ Aditia Maruli)

Srikandi Pemuda Pancasila Harapkan Kaporli Jenderal Badrodin Haiti Bersinergi dengan KPK

Jakarta – Srikandi Pemuda Pancasila mengharapkan agar Kapolri terpilih Jenderal Polisi Badrodin Haiti bisa membawa kesejukan hubungan antara sesama penegak hukum khususnya antara institusi Kapolri dengan Komisi Penegakkan Hukum. Pasalnya, selama ini publik melihat ada ketidakharmonisan antara dua instansi penegak hukum dan hubungan yang tidak baik itu tentu membawa pengaruh kepada masyarakat pencari keadilan.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Nasional Srikandi Pemuda Pancasila Hj Sarimaya ditemui di kantornya di Gedung Mustika Ratu lantai 11, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (17/4).

Menurut Sarimaya, selama 3 bulan ini posisi Kapolri definitif memang sempat kosong  setelah Jenderal Sutarman tidak lagi menjabat. Presiden Joko Widodo sempat mencalonkan Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri. Namun pencalonannya terganjal masalah hukum lantaran ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

Usai ditetapkan sebagai tersangka itu, hubungan antarkedua lembaga itu sempat memanas, lantaran Polri juga menetapkan dua Pimpinan KPK sebagai tersangka. Presiden lalu membatalkan pencalonan Komjen Budi Gunawan dan menggantinya dengan Komjen Badrodin Haiti. Serta, mencopot dua pimpinan KPK dan melantik tiga pelaksana Tugas.

Karena itu, kata Sarimaya, sebagai anggota masyarakat dia mengharapkan agar ada sinergi yang baik dalam upaya penegakkan hukum antara institusi kepolisian dengan KPK.

“Kami berharap KPK dengan Polri bersinergi kembali membangun hubungan kerja yang kondsuif sesuai dengan tupoksi masing-masing,” kata Sarimaya yang akan menggelar MUNAS Srikandi Pemuda Pancasila pada 1-2 Mei 2014 di Jakarta.

Seperti diketahuih, hari Jumat ini Presiden Jokowi melantik dengan resmi Kaporli Jenderal Badrodin Haiti sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Sutarman.  Dalam sumpahnya, ia menyatakan siap berpegang teguh pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dia juga berjanji akan menjalankan dengan lurus tugasnya sebagai Kapolri dan menolak segala bentuk hadiah yang diberikan kepadanya terkait posisinya sebagai Kapolri.

“Saya bersumpah akan setia dan taat kepada Negara Republik Indonesia dan akan memegang rahasia yang menurut sifat atau menurut perintah harus dirahasiakan,” kata Badrodin dalam acara pelantikan yang dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri Kabinet Kerja, sejumlah Anggota DPR, pimpinan KPK dan pejabat negara lain.

Selama berkarier di kepolisian, Badrodin sempat menduduki posisi sebagai Kapolda Banten (2004-2005), Kapolda Sulawesi Tengah (2006-2008), Kapolda Sumatera Utara (2009-2010), Kapolda Jawa Timur (2010-2011), dan Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (2013-2014). Pria kelahiran Jember, 24 Juli 1958, itu adalah lulusan Akademi Kepolisian tahun 1982. (zul/ foto: Ist)

 

 

 

 

PM Norwegia Sedih Mendengar Nasib Orang Rimba

Jambi -Perdana Menteri (PM) Norwegia, Erna Solberg, sedih mendengar nasib orang rimba di kawasan hutan adat Senamat Ulu, Kabupaten Bungo (Jambi), ketika dia menemui langsung orang rimba di wilayah setempat, Rabu.

“Saya sangat sedih mendengar kondisi orang rimba, kami menyadari hutan sangat penting, penting sekali untuk dunia,” kata Erna Solberg, saat menanyakan langsung keluhan orang rimba melalui translitator.

PM Norwegia mengatakan, sangat penting sekali menemukan cara untuk melindungi hutan, dan bagimana orang rimba bisa tetap bertahan di dalam hutan.

Dari dialog itu diketahui orang rimba mengalami kesulitan pangan, mereka tidak bisa berburu babi serta mendapatkan hasil hutan seperti getah balam dan jernang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena sebagian besar hutan sebagai wilayah jelajah mereka sudah habis.

PM juga sempat menanyakan apa yang dilakukan orang rimba berusia muda di hutan. Dan kapan orang mulai mengalami kesulitan mendapatkan makanan.

Salah satu perwakilan orang rimba sebelumnya mengatakan kepada PM Norwegia bahwa kehidupan mereka kian terjepit karena hutan sudah berubah menjadi perkebunan sawit yang dikelola perusahaan.

Mereka kesulitan mendapatkan hasil hutan untuk dijual dan kesulitan mencari sumber protein di hutan, selain itu mereka merasa terdesak dan dilarang oleh warga desa jika ingin mengola lahan menjadi lahan pertanian.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, mengatakan, dari pertemuan dengan orang rimba bersama PM Norwegia, ada persoalan yang bisa dipetik dan menjadi pemikiran pemerintah ke depan untuk dikembangkan kebijakannya.

Persoalan itu yakni posisi lahan, dimana suku anak dalam merasa kesulitan setelah hadirnya tiga perusahaan. Namun Siti Nurbaya baru mengetahui dua nama perusahaan yang dimaksud.

“Saya sudah cek dua perusahaan, sudah tau namanya dan kita cari tau lagi satu perusahaan yang mereka maksud, makanya saya nanya tinggal mereka sebenarnya dimana,” katanya menjelaskan.

Di samping itu, lanjutnya, orang rimba juga mengatakan bahwa mereka kehilangan mata pencarian, dan berkali-kali mereka mengatakan ingin mengolah lahan pertanian.

“Mereka bilang berburu dan mengambil hasil hutan sudah susah, jadi mereka berkeinginan mengolah pertanian. Saya kira yang terpikir juga oleh mereka bahwa kita sesungguhnya kehidupan di hutan adalahan melakukan pertanaman sambil menjaga alam,” jelasnya.

Menteri juga mengungkapkan, temuan di lapangan akan dilaporkan ke Presiden untuk menjadi kebijakannya seperti apa nanti. Namun kebiasan nomaden dan memburu bagi orang rimba tetap jadi pertimbangan.

Siti Nurbaya menjelaskan, pemerintahan Jokowi sudah menegasakan bahwa hutan itu adalah untuk mensejahterahkan rakyat. Dan pemerintah saat ini hanya tinggal memformalisasikannya saja skema yang sudah disusun.

Menurutnya, sudah banyak skema untuk kehidupan orang rimba yang dikembangkan, misalnya secara defenitif menjadi desa hutan, hutan tanaman rakyat, atau hutan kemasyarakatan yang skemanya sudah disesuaikan dengan kondisi lokal.

Selain itu, lahan sangat penting diberikan kepada masyarakat yang marginal, apalagi yang dikelola perusahaan, sebab itu tinggal mencocokan dengan formalisasinya.

Tidak hanya itu, kekuatan berproduksi juga diterapkan, para orang rimba didorong untuk tetap menjaga alam mereka.

Ketika ditanya mengapa PM Norwegia memilih Jambi sebagai lokasi kunjungannya, Menteri mengatakan bahwa dalam kerjasama emisi gas rumah kaca atau Reed, Jambi juga terlibat dengan sebelas provinsi di Indonesia, Jambi ini katanya sebagai contoh saja. (Ant/ Kunto Wibisono)

 

Okti Kimria Berkibar di Bisnis ‘Fashion’

Jakarta  – Berawal dari kebutuhan, berubah menjadi hobi kemudian berkembang menjadi ladang bisnis. Itulah perjalanan hidupnya hingga menjadi seorang pebisnis di bidang fashion. Bahkan, ia berhasil mengembangkan bisnisnya itu hingga dikenal tak hanya di pasar Indonesia, namun juga di mancanegara.

Ketika ditemui di kediamannya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu Okti Kimria menceritakan awal perjalanan bisnisnya yang tak lain berawal dari hobi. Sejak muda Okti memang memiliki minat besar pada bidang seni, khususnya desain. Namun karena tuntutan kedua orangtua yang mengharuskan ia kuliah bidang bisnis, terpaksa Okti mengurungkan niatnya selama menimba ilmu itu. Seiring berjalannya waktu, ia justru berhasil mengawinkan ilmu bisnisnya dengan hobinya itu.

“Setelah lulus kuliah saya sempat tinggal di Singapura untuk membantu bisnis keluarga. Namun setelah menikah dan punya anak, saya sempat vakum karena fokus mengurus keluarga,” kenangnya.

Setelah dirasa sang buah hati sudah cukup besar, Okti tak mau menunggu waktu lama lagi untuk bergerak memulai sebuah bisnis yang dirintisnya benar-benar dari titik nol. Saat itu ia merasa bahwa sayang sekali jika hobi dan talenta yang dimiliki tidak dikembangkan dengan maksimal.

“Saya merasa jika kita mengerjakan sesuatu dari hobi pasti akan maksimal dan bisa berkembang,” katanya.

Dan terbukti, sebuah bisnis kids fashion atau busana anak-anak yang dirintisnya sejak 3 tahun lalu itu kini berkembang pesat. Setelah dikenal di Pulau Dewata, Bali, kids fashion dengan brand Hootsie ini, bahkan telah go international merambah Australia, Singapura dan akan menyasar Jepang.

Ketertarikannya pada bisnis ini selain karena hobinya mendesain busana, awalnya ia merasa kesulitan mencari busana nyaman dan berkualitas untuk kedua putrinya.

“Saya melihat kids fashion di Indonesia sangat limited, kalau mau beli busana anak brand luar dengan kualitas bagus pasti harganya sangat mahal. Nah, di situlah tantangannya untuk membuat busana anak-anak berkualitas bagus dengan harga terjangkau. Setelah persiapan matang selama setahun akhirnya berdiri Hootsie di Bali,” ia menceritakan awal mula bisnisnya itu.

Lantas mengapa Okti memilih Bali, bukan Jakarta sebagai ladang bisnisnya? Hal itu diakuinya karena potensi Bali sangat besar sebagai tempat wisata, baik untuk turis lokal maupun turis mancanegara. Selain itu, ia pun mengakui kecintaannya yang sangat besar pada Bali. Okti pun cukup bangga lantaran berhasil membawa nama Hootsie yang dikenal sebagai made in Bali. Selain Hootsie, keluarga besar Okti juga memiliki sebuah bisnis hospitality, Hotel Alila Soori yang juga terletak di Bali.

Setelah merasa Hootsie sudah berjalan dengan baik sesuai target dan rencana awal bisnisnya, Okti melebarkan sayap dengan membuat dan mengembangkan sebuah produk flat shoes khusus wanita dengan brand Madeline. Sama seperti Hootsie, Madeline berawal dari kebutuhannya akan flat shoes yang menurutnya lebih nyaman dikenakan dibanding high heels.

High heels memang indah dipandang tapi kadang sangat menyiksa,” cetusnya.

Madeline belum lama hadir di tengah para kaum hawa pecinta flat shoes, namun Okti yakin akan mampu berkibar seperti Hootsie. Hal itu lantaran Okti menjamin produknya tersebut berkualitas tinggi, terbuat dari kulit asli, dan aksesoris cantik dari Italia, namun dipasarkan dengan harga terjangkau.

“Prinsip saya bisnis bukan hanya semata karena uang, namun juga harus memberikan yang terbaik. Dan saya sangat rewel soal kualitas produk dan kenyamanan. Untuk itu saya menggaransi produk saya berkualitas bagus, dan sangat nyaman,” terangnya sedikit berpromosi.

Bukan sekadar lips service! Sebab, Okti telah membuktikan dan melakukan uji coba sebelumnya. Ya, wanita yang senang berjalan kaki ini, telah mencoba sepatu produksinya itu dikenakan untuk berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh. Ia bercerita, jika sedang di Bali atau sedang traveling ke luar negeri, ia lebih suka jalan kaki ke mana-mana.

Untuk menarik pelanggan, lulusan business marketing dari salah satu universitas di San Francisco ini membatasi produksi hanya 100 pasang sepatu tiap modelnya. Hal itu diakuinya sebagai salah satu strategi pasar agar produknya tersebut terkesan eksklusif dan tidak pasaran. Selain itu, istri Djohan Setiawan ini juga mendesain sendiri model-model sepatu yang diproduksinya itu, meski ia harus tidur hingga pukul tiga  dini hari setiap harinya.

“Kerja seperti ini kan harus tenang,  dan saya baru bisa mulai bekerja setelah anak-anak tidur, jadi terkadang sampai pagi,” katanya sembari tersenyum.

Di sela-sela kesibukannya, Okti menyempatkan diri traveling ke mancanegara guna mencari inspirasi untuk perkembangan bisnisnya. Dan pada saat libur sekolah tiba, Ibu Kelly Lai dan Michelle Lai ini seringkali mengajak buah hatinya itu traveling untuk berlibur. (Suci Yulianita/ Obsessionnews )

 

Kemenag Mukomuko usulkan sertikasi guru lama mengabdi

Mukomuko – – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, mengusulkan sertifikasi guru yang telah lama mengabdi di daerah itu.

“Saat ini kami masih melakukan pendataan awal bagi guru yang sudah mengabdi sejak tahun 2005 sampai sekarang,” kata Kasi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Mukomuko Syukran, di Mukomuko, Selasa.

Ia mengatakan, pendataan ini tujuannya untuk sertifikasi guru baru di madrasah. Guru yang didata itu baik yang telah berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS) maupun tenaga honorer.

Karena, katanya, di instansi itu tidak hanya guru yang sudah PNS saja yang boleh sertifikasi tetapi guru honorer juga dapat. Cuma bedanya kalau guru honorer pengambilan uang sertifikasinya di Kemenag.

“Kalau guru yang sudah PNS mengambil tunjangan sertifikasinya di sekolah masing-masing,” ujarnya.

Ia menyebutkan, sebanyak 110 orang guru PNS dan 415 orang guru honorer berada di bawah naungan Kemenag setempat.

Dari jumlah tersebut, sebutnya, sebanyak 90 orang guru PNS dan 65 orang guru non PNS yang telah bersertifikasi. Sisanya guru yang masih baru mengajar.

Namun, lanjutnya, masih ada guru di MIN yang belum sarjana tetapi sudah mengajar sejak tahun 2005 sampai sekarang.

“Bagi guru yang ingin mengusulkan sertifikasi tetapi belum tamat sarjana satu diberikan kesempatan menyelesaikan pendidikannya pada Desember 2015 ini,” ujarnya. (Ant/ Fitri Supratiwi/ Foto: Ist)

BKPRMI dan Pemkab Kukar Kerjasama Ciptakan 1 Juta Pengusaha

Jakarta Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) melakukan kerjasama dengan pemerintah daerah khususnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar), untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau Asean Economic Community yang digelar mulai akhir tahun 2015 ini.

Menurut Ketua Umum DPP BKPRMI, Said Aldi Al Idrus, kerjasama tersebut merupakan tindakan nyata untuk menciptakan 1 juta kader entrepreneurship (pengusaha). Kerjasama juga dilakukan ke luar negeri dengan mengirimkan kader-kader LP Ekop untuk membangun forum-forum bisnis di negara Asean.

“BKPRMI menghadapi MEA ini mengirimkan kawan-kawan LP Ekop untuk membuat networking diseluruh negara Asean dalam rangka membuat forum-forum binis seperti di Singapura, Kamboja, Filipina, dan lain-lain. Program itu sudah berjalan,” kata Said, Minggu (12/4), usai Rapat Kerja Nasional (Rakernas) BKPRMI yang digelar pada 10-12 April 2015 di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta.

Pada kesempatan itu, Bupati Kukar Hj. Rita Widyasari SSos MM PhD menyambut baik kerjasama tersebut. “Saya siap bekerjasama mewujudkan satu juta entrepreneur, baik secara pribadi atau sebagai kepala pemerintahan daerah,” kata Rita.

Oleh karena itu, ia berharap BKPRMI menyiapkan pemuda-pemuda berkualitas guna menghadapi MEA. Salah satu kerja yang mesti disiapkan adalah keterampilan dalam bernegosiasi dengan perusahaan-perusahaan asing.

“Karena itu sumber daya manusia menjadi penting bagi BKPRMI. Namun begitu juga harus selalu menjaga iman, amal dan ikhlas,” jelas Bupati Kukar dalam diskusi pada Rakernas BKPRMI di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta, Minggu (12/4).

Menurut Rita, kompetisi global terutama MEA harus dihadapi dengan berbagai strategi dan kebijakan yang konkret. Oleh karena itu, tutur dia, BKPRMI harus berani mengambil terobosan.

“Lagi-lagi pemuda harus memiliki  persepektif yang jelas agar tidak mudah tergilas saat MEA dilaksanakan nanti,” tambahnya.

Ia pun meyakini BKPRMI memiliki karakter bekerja keras dan dapat dipercaya serta  memiliki pengetahuan yang luas untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia ke depan.

Selain itu, Rita meminta agar masjid dapat dijadikan pengembangan ekonomi dan pembinaan jamaah.

“Harus memiliki pengetahuan dan kemampuan, terencana, memanfaatkan segenap sumberdaya yang ada,” tandas calon Bupati incumbent yang maju lagi di Pilkada Kukar pada Desember 2015 ini. (Obsessionnews.com)

Titin Fatimah, Arsitek yang Peduli Pengembangan Desa Wisata

Jakarta – Dr. Eng. Titin Fatimah memiliki latar belakang akademis di bidang arsitektur. Namun demikian, kiprahnya tidak hanya di bidang arsitektur saja, melainkan juga pelestarian pusaka (heritage) serta pengembangan desa wisata. Kepeduliannya terhadap desa wisata dituangkan dalam salah satu paper ilmiahnya yang mengangkat studi kasus proses pengembangan Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sebagai desa ekowisata berbasis masyarakat. Paper ilmiahnya tersebut memperoleh penghargaan sebagai Yearly Excellent Paper tahun 2008 dari The City Planning Institute of Japan.

Paper ilmiahnya tentang pengembangan Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, memperoleh penghargaan sebagai Yearly Excellent Paper tahun 2008 dari The City Planning Institute of Japan.

Kepada Obsessionnews, Selasa (7/4/2015), dalam paper tersebut Titin mengulas upaya-upaya yang ditempuh oleh masyarakat Desa Candirejo untuk mengembangkan desanya. Meskipun baru diresmikan sebagai desa wisata tahun 2003, ternyata proses pengembangannya sudah berlangsung sejak tahun 80-an dengan inisiatif warganya. Desa ini terletak sekitar 3 km dari Candi Borobudur. Luas wilayahnya sekitar 350 hektar, meliputi pemukiman seluas 100 hektar dan lahan pertanian sekitar 250 hektar. Desa Candirejo dapat dikatakan merupakan simbol dari budaya Jawa. Berbagai daya tarik dan kegiatan wisata dapat dilakukan di sini. Mulai dari wisata alam, kesenian, kerajinan, kuliner, jalan-jalan, budaya, hingga sejarah. Banyak atraksi dan tradisi lokal di desa ini seperti nyadran, sedekah bumi, kesenian lokal seperti jathilan, kubrosiswo dan industri rumah tangga berupa kerajinan bambu dan pandan. Di desa ini juga ada situs budaya, yakni Watu Kendil, Toyo Asin, Watu Tambak, Tempuran Kali Progo dan Pabelan. Candirejo salah satu desa wisata di Borobudur yang berhasil memikat hati para wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Tulisan Titin mengenai pengembangan desa-desa wisata di Borobudur ini adalah bagian dari penelitian untuk disertasi S3-nya. Mengapa memilih Borobudur sebagai studi kasusnya, tak lain karena panggilan hatinya. Lahir dan dibesarkan di Desa Giritengah, Kecamatan Borobudur, telah menumbuhkan kecintaannya akan keelokan kampung halamannya tersebut.

“Desa-desa di Borobudur memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan. Ada beberapa yang sudah berkembang bagus, tapi masih ada banyak desa lainnya yang masih memerlukan pendampingan,” ujarnya kepada obsessionnews.com, Sabtu (4/4/2015) pagi.

Secara garis besar kriteria desa wisata adalah kawasan pedesaan yang memiliki beberapa karakteristik khusus yang layak untuk menjadi daerah tujuan wisata. Di kawasan ini, penduduknya masih memiliki tradisi dan budaya yang relatif masih asli. Di desa wisata seyogyanya terdapat sarana transportasi, telekomunikasi, kesehatan, dan akomodasi. Indonesia yang kaya akan potensi alam dan budaya di kawasan pedesaan memiliki peluang yang bagus untuk mengembangkannya menjadi salah satu daya tarik wisata.

Titin saat ini beraktivitas sebagai dosen dan peneliti di Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara, Jakarta. Ia menamatkan pendidikan S1-nya di Jurusan Arsitektur UGM Yogyakarta tahun 2002, kemudian pada tahun 2003 berangkat ke Jepang untuk melanjutkan studi S2 dengan beasiswa Monbukagakusho di Universitas Wakayama. Selanjutnya mengambil program doktoral di Universitas Kyoto.

Selama masa studi tersebut, Titin ikut aktif baik sebagai panitia maupun fasilitator dalam inisiasi kegiatan Borobudur International Field School on Cultural Landscape Heritage Conservation (BFS) yang digagas oleh Center for Heritage Conservation (UGM) dan Kanki Laboratory (Universitas Wakayama, yang kemudian Universitas Kyoto juga bergabung). Kegiatan BFS yang dimulai sejak tahun 2004 hingga kini bertempat di Desa Candirejo, dan selalu melibatkan partisipasi masyarakat setempat. Kegiatan bersama-sama mengenai pelestarian pusaka saujana (cultural landscape) dalam kegiatan BFS tersebut telah dibukukan dan diterbitkan baru-baru ini oleh Penerbit Kyoto University Press (Jepang) bekerja sama dengan Trans Pacific Press (Australia). Bersama Profesor Kanki Kiyoko dan tokoh pelestarian pusaka Indonesia Dr. Laretna T. Adishakti (Sita), Titin menjadi editor sekaligus menulis beberapa bagian dari buku yang bertajuk “Borobudur as Cultural Landcape: Local Communities’ Initiatives for the Evolutive Conservation of Pusaka Saujana Borobudur” tersebut.

Sebagai pecinta heritage (pusaka/cagar budaya), Titin juga aktif dalam kegiatan pelestarian pusaka. Bergabung di Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) sebagai volunteer, ia menjadi Koordinator Tahun Pusaka Indonesia 2013 yang menggelar berbagai kegiatan terkait pelestarian di berbagai daerah di Indonesia. Kini aktivitasnya bertambah dalam Dewan Pakar BPPI. Aktivitas lainnya antara lain sering diundang untuk memberikan kuliah tamu, pembicara seminar maupun menjadi fasilitator workshop di berbagai tempat.

Titin dipercaya menjadi juri lomba desa wisata dalam ajang BeKreatif (Gebyar Seni Kreatif) Indonesia 2015 di Bandung pada November mendatang. Dia berharap bahwa ajang ini bisa menjadi salah satu pemicu positif bagi para pegiat desa wisata untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitasnya. Mengelola desa wisata dituntut untuk selalu berpikir kreatif dalam mengolah potensi yang dimiliki, mengemasnya menjadi produk wisata yang menarik serta melakukan promosi melalui berbagai media. Tantangan lainnya adalah bagaimana pengelolaan desa wisata tidak hanya menghasilkan benefit secara ekonomi, tapi sekaligus juga bagi keberlanjutan sumber daya alam dan budaya yang dimiliki desa. Tak salah kalau desa wisata menjadi salah satu kategori dalam ajang ini.

Sebagai tambahan, Titin menjelaskan bahwa lomba ini terbuka untuk seluruh pengelola desa wisata di Indonesia, asal sudah beroperasi minimal dua tahun. Setiap peserta bisa mengisi formulir dan mengirimkannya kembali ke panitia untuk seleksi awal. Finalis kemungkinan diminta untuk memberikan bahan-bahan tambahan lainnya seperti foto, video, artikel media cetak/online dan sebagainya. Finalis yang terpilih akan diundang untuk mengikuti workshop sebagai pembekalan sebelum mengikuti seleksi di tahap berikutnya. (Arif RH)