Din Syamsuddin: Masyarakat Timteng Belum Terapkan Etika Islam dalam Ekonomi

DOHA : MASYARAKAT di Timur Tengah (Timteng) sebagai tempat lahirnya agama Islam belum maksimal menerapkan etika Islam sebagai dasar dan faktor pendorong mentalitas masyarakat dalam pembangunan ekonomi.

“Agama, khususnya Islam, berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Timteng, namun belum maksimal diperankan sebagai faktor pendorong ekonomi. Islam di Timteng belum ditampilkan sebagai sumber etika pembangunan ekonomi, seperti etika Protestan yang telah mendorong kemajuan Eropa dan etika Konghucu yang sekarang ditengarai menjadi faktor pendorong kebangkitan China dan Asia Timur,” kata Din Syamsuddin melalui rilis yang diterima suarakaraya.co.id di Jakarta, Rabu pagi (1/11/2018).

Din Syamsuddin yang berbicara sebagai Chairman of Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) mengemukakan hal itu dalam konferensi yang bertajuk, “Enriching the Middle East’s Economic Future” di Doha, Qatar, 30-31 Oktober 2018 yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri Qatar bersama UCLA Centre for Middle East Development.

Menurut Din, keberagamaan umat Islam di kawasan itu berkutat pada keyakinan dan peribadatan, belum menjadi paradigma etika.

“Selain itu, umat Islam belum berhasil merebut supremasi ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti pada abad-abad pertengahan yang membawa Dunia Islam (Arab dan Persia) menjadi pemegang supremasi peradaban dunia. Tanpa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi maka mustahil umat Islam meraih kemajuan,” jelas dia.
Lebih dari pada itu, tegas Din yang juga ketua Dewan Pertimbangan MUI, negara-negara Arab terjebak pada egosentrisme primordial etnik (clanship) sehingga kurang mampu menampilkan Islam sebagai faktor pemersatu di antara mereka.

Selain menjadi pembicara kunci pada pembukaan konferensi tersebut, Din Syamsuddin, yang juga guru besar politik Islam global pada program pascasarjana FISIP UIN Jakarta, dia menjadi salah seorang panelis pada sesi bertajuk, “How International Understanding Can Help Economic Development”.

Pada kesempatan ini, Din meminta dunia khususnya barat memandang kondisi Timteng sebagai dinamika dan tidak menjadikannya sebagai sasaran proxy war (perang perwakilan) dan ladang perang saudara.

“Karena, konflik di Timur Tengah membawa resonansi ke Dunia Islam dan dunia pada umumnya,” kata Din Syamsuddin. (Indra DH/(Suara Karya).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *