Kerajaan Arab Saudi Mulai Bagikan SIM untuk Perempuan

Kerajaan Arab Saudi Mulai Bagikan SIM untuk Perempuan

35
0
Pusat Komunikasi Internasional (CIC) dari Kementerian Media Arab Saudi membagikan foto yang menampakkan perempuan Saudi bernama Tahani Aldosemani tengah menunjukkan SIM yang baru didapatnya (5/6/2018). | CIC Handout /EPA-EFE

ARAB SAUDI – Pemerintah Arab Saudi tampaknya akan menepati janji untuk mengizinkan perempuan mengemudikan sendiri kendaraan mereka di jalanan mulai 24 Juni 2018. Pada Minggu (4/6), Surat Izin Mengemudi (SIM) mulai diberikan kepada 10 perempuan warga negara tersebut.

Kesepuluh perempuan itu sebelumnya sudah memiliki SIM dari negara lain. Mereka kemudian menjalani tes mengemudi dan pemeriksaan mata di Departemen Lalu Lintas di Riyadh, lalu mendapatkan SIM bersejarah tersebut.

“Direktorat jenderal lalu lintas hari ini mulai mengganti izin mengemudi internasional yang diakui di kerajaan dengan lisensi Saudi, sebagai persiapan untuk mengizinkan perempuan mengemudi,” tulis kantor berita resmi pemerintah Saudi, SPA.

“Proses penukaran itu berlangsung di beberapa tempat seputar kerajaan untuk menjadi fondasi bagi perempuan duduk di belakang setir di jalanan–sebuah titik balik yang akan diaktualisasikan pada 24 Juni.”

Hingga saat ini Saudi adalah satu-satunya negara yang melarang perempuan menyopir. Sejak Kerajaan Arab Saudi berdiri, perempuan tidak diperbolehkan mengemudi kendaraan sendiri, bahkan harus selalu ditemani laki-laki dari keluarga mereka jika hendak bepergian.

Kerajaan dengan ideologi Islam Wahabi ini dikenal amat konservatif dalam mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh warga mereka, terutama perempuan.

Akan tetapi, sejak Raja Salman berkuasa dan kemudian memilih Pangeran Muhammad bin Salman diangkat sebagai putra mahkota, mereka mengambil beberapa langkah yang terbilang liberal–termasuk izin bagi perempuan untuk menyopir mobil ini.

Kerajaan Saudi juga telah memperbolehkan perempuan untuk menyaksikan pertandingan sepak bola di stadion.

Keputusan pemberian izin mengemudi bagi perempuan diumumkan pemerintah dalam dekret Raja Salman pada 26 September 2017. Izin itu berlaku efektif pada 10 Syawal 1493 Hijriah, atau 24 Juni 2018.

Setelah 10 SIM itu diberikan, Aljazeera mengabarkan bahwa pemerintah Saudi berencana untuk mengeluarkan 2.000 SIM untuk perempuan mulai pekan depan.

Tahani Aldosemani, asisten profesor Departemen Teknologi Universitas Pangeran Sattam Bin Abdulaziz di Al-Kharj, jadi salah satu perempuan pertama yang mendapatkan SIM tersebut. Pada Senin (5/6), ia menukarkan SIM internasional yang didapatnya saat kuliah di Amerika Serikat selama empat tahun.

“Bagi perempuan mengemudi bukan hanya mengendalikan sebuah kendaraan. Ia bisa memperkuat karakter, kepercayaan diri, dan kemampuan mengambil keputusan,” kata Aldosemani, dalam situs CIC, pusat komunikasi internasional pemerintah Arab Saudi.

“(Mengemudi) juga menanamkan rasa tanggung jawab terhadap pribadi, kendaraan, jalanan, dan orang di sekitar Anda, belum lagi dimensi ekonomi dan sosial dari menyetir itu sendiri.”

Memberi izin kepada perempuan untuk mengemudi merupakan salah satu langkah awal dari upaya diversifikasi perekonomian yang tengah dilakukan pemerintah Saudi di bawah pengawasan Pangeran Muhammad.

Pangeran berusia 32 tahun itu disebut sebagai otak dari sebuah rencana pembangunan jangka panjang yang disebut “Vision 2030“. Visi 2030 merupakan upaya pemerintah Arab Saudi agar perekonomian mereka berkembang tanpa harus terus mengandalkan minyak bumi.

Resor mewah nan luas di tepi Laut Merah–yang kemungkinan bakal menyajikan minuman beralkohol–tengah disiapkan, bioskop kembali dibuka, hingga konser dengan penampil perempuan juga diselenggarakan untuk pertama kali dalam sejarah mereka.

Perempuan yang bisa menyetir sendiri mobil mereka, diyakini pemerintah akan mendukung program diversifikasi ekonomi tersebut, juga mengurangi pengeluaran keluarga untuk membayar sopir.

Kaum muda Arab, tentu saja, menyambut baik apa yang disebut sebagai awal dari era keterbukaan di negara itu. Namun ada harga yang harus mereka bayar untuk itu.

Beberapa pengamat menyatakan bayarannya adalah otoritarianisme Raja Salman dan Pangeran Muhammad yang makin kuat. Pada November tahun lalu, pemerintah menangkap puluhan pangeran dan pengusaha lalu menahan mereka di Hotel Ritz-Carlton Riyadh.

Mereka dituduh korupsi dan dipaksa menyerahkan sebagian besar aset kepada negara.

Beberapa pekan lalu, sebelum SIM perempuan ini diberikan, pemerintah Saudi menangkap 17 aktivis lokal karena, mengutip Washington Post, mereka dicurigai “membahayakan keamanan dan stabilitas negara”.

Delapan orang kemudian dilepaskan, tetapi sembilan lainnya masih ditahan. Mereka yang masih ditahan, menurut The New York Times, termasuk Loujain al-Hathloul, perempuan yang sempat dipenjara selama 70 hari pada 2014 karena mencoba mengemudikan mobil masuk ke Arab Saudi dari Uni Emirat Arab. (Beritagar.id)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY