Kesbangpol DKI Jakarta Kenalkan Etika dan Budaya Politk dalam Berdemokrasi

Kesbangpol DKI Jakarta Kenalkan Etika dan Budaya Politk dalam Berdemokrasi

16
0

CIPAYUNG – Realitas politik Indonesia yang penuh dengan perebutan dan kekuasaan paska reformasi ini sudah menjadi tontonan sehari-hari masyarakat. Politik lebih dimaknai sebagai upaya untuk menjatuhkan satu kelompok dengan kelompok yang lain. Politik telah kehilangan makna sebagai sebuah nilai-nilai etis berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Karena itu, guna mengenalkan politik yang santun dan beretika, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DKI Jakarta mengadakan kegiatan “Peningkatan Etika dan Budaya Politk dalam Berdemokrasi” selama 3 hari, Selasa-Jumat, 7-10  Agustus 2018 di Hotel Arimbi, Cipayung, Bogor, Jawa Barat.

Dalam sambutan pengarahannya, Kepala Plt. Kesbangpol DKI Jakarta, Drs. Taufan Bakri, M.Si, mengatakan terkait perebutan kekuasaan baik di tingkat anggota caleg dan DPD, dan pemilihan presiden dan wakilnya, pemerintah telah mengatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tentang Pemilu Tahun 2017.

“Jadi, jabatan presiden itu dibatasi hanya untuk 2 periode,” ujar Taufan mencontohkan.

Alumnus Fisip Unas Jakarta ini menambahkan, mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa ini perlu memahami pentingnya masalah etika yang didalamnya ada tata krama, sopan santun, menghargai orang lain, mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan partai dan golongan.

Kesbangpol DKI Jakarta mencatat, bahwa Pilkada DKI Jakarta meski diwarnai suhu politik yang tinggi namun pada akhirnya telah berhasil memilih pemimpinnya yaitu Anies dan Sandiaga Uno. Pilkada merupakan bukti untuk melihat bagaimana budaya politik masyarakat toleran dengan norma dan etika serta menjungjung tinggi Hak Azazi Manusia, terutama hak sipil dan politik dalam kehidupan sehari-hari.

“Pendapat umum dan aspirasi politik antar kelompok maupun kepada pemerintah harus disampaikan dengan cara santun dan berbudaya,” gugah Taufan.

Dicontohkannya, para pendiri bangsa seperti Soekarno, Syahrir dan Bung Hatta, meski ada perbedaan politik namun mereka masih bisa duduk bareng ngopi untuk membicarakan masalah bangsa dan negara.

Kesbangpol DKI Jakarta memperkenalkan  Etika dan Budaya Politk dalam Berdemokrasi kepada 110 mahasiswa yang berasal dari kampus Dokter Moestopo Beragama, Universitas Az Zahra, Universitas Bakrie, Universitas Bung Karno, Universitas Dirgantara Marsekal Soeryadharma, dan Universitas Bhayangkara.

Kepada para mahasiswa, Taufan mengharapkan sebagai generasi penerus agar turut memberikan dorongan motivasi kepada komponen/elemen masyarakat untuk menciptakan dinamika politik yang mencerminkan budaya dan etika politik yang dinamis dan demokratis.

“Transformasi nilai etika dan budaya politik serta implementasinya harus terus menerus ditanamkan dan disosialisasikan kepada seluruh komponen masyarakat, agar dapat mewarnai kehidupan demokratis yang lebih santun, berbudaya dan makin berkembang serta memenuhi standar nilai norma dan Etika Kehidupan Politik yang Demokratis,” paparnya. (Zul)

 

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY