Muslimat NU Lahir dari Keinginan Pengakuan Terhadap Perempuan

Muslimat NU Lahir dari Keinginan Pengakuan Terhadap Perempuan

19
0
Ribuan kader Muslimat Nahdlatul Ulama memadati stadion Gelora Bung Karno dalam rangka menghadiri Harlah Muslimat NU ke 73, Minggu (27/1). (CNNIndonesia/Bimo Wiwoho)

JAKARTA – Muslimat NU Minggu (27/1) pagi ini memperingati harlah ke-73 di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) . Keberadaan organisasi tersebut tak terlepas dari sejarah panjang Nahdlatul Ulama (NU).

Organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut pendiriannya dimotori oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah, serta sejumlah kyai dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Mereka sepakat untuk membuat organisasi Islam terbesar di Indonesia yang kemudian hari dikenal sebagai NU.

Jika melongok ke belakang, sesuai yang dikisahkan oleh Ketua PBNU Robikin Emhas kepada CNNIndonesia.com, cikal bakal NU telah ada sejak 1914. Awal mula NU muncul ketika Kyai Wahab mulai mendirikan kelompok diskusi yang ia namai Taswirul Afkar atau Kawah Candradimuka Pemikiran, tepat pada tahun 1914.

Tak hanya Taswirul Afkar, muncul pula embrio lain yang kemudian merujuk ke satu organisasi besar NU. Embrio itu organisasi pergerakan Nahdlatul Waton atau Kebangkitan Tanah Air. Organisasi tersebut lahir pada 1916.

Setelah organisasi tersebut, lahir pula Nahdlatut Tujjar atau Kebangkitan Saudagar yang didirikan sekitar 1918. Untuk diketahui Nahdlatul Ulama (NU) sendiri disebut sebagai lanjutan dari komunitas dan organisasi-organisasi yang telah berdiri sebelumnya, namun dengan cakupan yang lebih luas.

Robikin kemudian mengatakan, organisasi Islam ini bukan berdiri hanya semata untuk belajar ilmu tauhid atau keislaman semata. Lebih dari itu, PBNU juga dijadikan ajang saling mendidik, berbagi wawasan serta literasi antar penganutnya.

Tak hanya itu, kata Robikin, NU juga dikenal sebagai organisasi yang tak mempertentangkan antara kebangsaan dan keislaman. NU kata dia menerima Pancasila sebagai lambang negara dan tak menuntut syariat Islam diterapkan secara formal.

“Singkatnya, NU didirikan untuk mengemban dua mandat; mandat keagamaan dan kebangsaan atau dikenal dengan sebutan mandat kenegaraan,” kata Robikin.

Perempuan NU

Memiliki cakupan keilmuan yang luas, membuat NU memiliki banyak pengikut tetap. Para pengikut tak hanya berasal dari kalangan pria. Banyak juga pengikut NU yang berasal dari kalangan perempuan. Mereka bahkan telah belajar di organisasi ini sejak usia muda.

Semula, NU memang dikenal sebagai organisasi yang pergerakan dan kepengurusannya dimotori oleh kaum lelaki. Namun, pada tahun 1938 muncul pergolakan dari kaum perempuan NU yang ingin adanya pengakuan bahwa mereka juga mesti memiliki kepengurusan yang sah, diakui dan tetap sebagai bagian dari tubuh NU.

Dari pergolakan itulah lahir cikal bakal organisasi Muslimat NU yang juga masih bagian dari PBNU itu sendiri.

Sebenarnya dalam PBNU kata Robikin, organisasi perempuan itu tak hanya Muslimat NU semata. Ada empat organisasi perempuan di bawah naungan NU yang dikelompokan dari mulai tingkat pelajar hingga NU yang usia anggotanya di atas 40-an.

“Ada empat organisasi perempuan di NU, yakni IPPNU, KOPRI, Fatayat NU, dan terakhir Muslimat NU,” katanya.

Dia pun menjelaskan dalam IPPNU atau Ikatan Pelajar Putri NU kebanyakan anggotanya adalah para pelajar sekolah menengah pertama (SMP) dan SMA.

“Mereka bergabung sejak usia sekolah SMP lah ya, sampai usia-usia SMA. Habis itu nanti naik tingkat,” kata Robikin.

Organisasi selanjutnya, setingkat lebih tinggi untuk jenjang usia para anggota yakni KOPRI atau Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri. “Anggotanya ya para mahasiswa putri,” katanya.

Baru selanjutnya kata Robikin organisasi perempuan lainnya yakni Fatayat NU dan Muslimat NU. Dijelaskan Robikin, Fatayat NU sendiri anggotanya merupakan perempuan NU pasca mahasiswa dan kebanyakan dari mereka belum berusia 40 tahun.

“Sementara untuk Muslimat NU ya anggotanya perempuan NU di atas 40 tahun,” kata dia.

Robikin pengelompokan atau segmentasi di kalangan perempuan NU ini tentu memiliki tujuan. Pengelompokan dilakukan agar pola kaderisasi lebih terarah dan jelas.

“Segmentasi perempuan NU berbasis usia ini agar pola kaderisasi lebih terarah dan medan perjuangannya jelas,” katanya.

Yang jelas kata Robikin memang bukan sesuatu yang aneh di NU terkait adanya perdebatan, termasuk soal pengelompokan organisasi perempuan ini.

“Semua berujung pada khidmah an-nahdliyyah, yakni untuk menyebarluaskan Islam moderat dan toleran, dan menjaga NKRI dengan segenap keragamannya,” kata dia menutup pembicaraan. (cnnindonesia.com)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY