Nurul Arifin Minta Srikandi Pemuda Pancasila Siap Hadapi MEA 2015

Nurul Arifin Minta Srikandi Pemuda Pancasila Siap Hadapi MEA 2015

226
0

Jakarta – Staf ahli Ketua DPR RI Nurul Arifin meminta Srikandi Pemuda Pancasila agar menyiapkan sumber daya manusia dan kompetensinya dalam memasuki kesiapan Indonesia dalam pasar regional Asean dikenal dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015.

“Kaum Srikandi Pemuda Pancasila harus siap memasuki era globalisasi MEA 2015,” ujar Nurul ketika menjadi pembicara pada Musyawarah Nasional I Srikandi Pemuda Pancasila tahun 2015 di Jakarta, Sabtu (2/5/2015)

Menurut Nurul, kesiapan SDM Srikandi Pemuda Pancasila ini dicirikan dengan kemampuan berkomunikasi dengan bahasa Inggris yang baik dan kemampuan memakai smartphone agar bisa berinteraksi dengan media sosial seperti facebook dan twitter. Kemampuan berkomunikasi ini penting agar kaum perempuan tidak teralineasi dengan modernisasi.

Dia melihat, bahwa upaya untuk meningkatkan kemampuan kaum perempuan harus dimulai dari perempuan itu sendiri. Karena itu, dia melihat masih relevannya ajaran Kartini tentang perlunya kaum perempuan Indonesia bangkit dari ketertinggalannya dalam semua bidang harus dilakukan.

Kalau kita maju dan mandiri, kata pemilik nama lengkap Nurul Qomaril Arifin ini maka posisi tawar kaum perempuan semakin lebih tinggi.

“Jangan takut dengan dogma-dogma dan doktrin yang berkeliaran. Maju terus perempuan Indonesia,” pekik Nurul.

Terkait UU Perkawinan Tahun 1974, dia mengatakan bahwa perlu ada revisi UU Perkawinan khususnya soal batasan usia pernikahan. Di dalam UU itu disebutkan bahwa batas minimal usia nikah untuk perempuan adalah 15 tahun dan untuk laki-laki 18 tahun. Menurut Nurul, batasan itu harus direvisi minimal 20 tahun untuk wanita dan 25 untuk pria.

“Saya tidak tahu kenapa sampai hari ini tidak jalan, Dia melihat mungkin tantangan itu datang dari pemuka-pemuka agama dari desa. Padahal dari usia biologis usia 15 tahun perempuan belum siap dan juga bagi laki-laki usia 18 tahun secara psikis juga belum siap,” paparnya.

Kepada anggota Srikandi PP Nurul mengajak mereka untuk terus memperjuangkan revisi usia batasan usia ini agar tidak banyak perceraian yang terjadi karena usia perkawinan yang masih dini ini. (zul)

Blocking Seats

Adapun untuk soal penjatahan 30 persen kursi perempuan di legislatif, Nurul melihat hal itu seharusnya sebagai jatah dan bukan hasil dari perolehan suara. Karena itu, negara harus terlibat dalam hal ini dan tidak bisa dilepaskan pada mekanisme perolehan suara. Dengan demikian maka jatah kursi 30 persen itu merupakan hak perempuan dan bukannya hasil dari perolehan suara,

“Jadi sebaiknya harus ada blocking seats untuk kursi perempuan di parlemen,” harapnya.

Nurul memahami, tantangan blocking seats ini akan datang dari kaum lelaki. Ini harus terus diperjuangkan blocking seat dan perolehan itu tidak harus dari pemilu.

“Kalau negara tidak melakukan blocking seat maka perjuangan kaum perempuan akan susah,” pungkas artis yang membintangi film Nagabonar ini. (zul)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY