oleh

Pemerintah Seyogianya Mampu Persiapkan Kebijakan Antisipasi Naiknya Harga Sembako

SPP.com – Fenomena yang selalu terjadi setiap jelang Lebaran adalah kebaikan bahan pokok, terutama pangan. Tentunya, tingginya permintaan selalu menjadi alasan kenaikan semua bahan pokok ini. Tapi seyogianya pemerintah sudah bisa mengantisipasi hal ini. Apalagi saat ini masyarakat sedang berada dalam kondisi sulit paska pandemi.

Ketua bidang Ekonomi, UMKM dan Tenaga Kerja, Srikandi Pemuda Pancasila, Inge Bunga Vanda Suprayogi, SE menyatakan kenaikan harga sembako yang biasa terjadi jelang Lebaran, kali ini terasa lebih memberatkan karena berbarengan dengan kenaikan hal lainnya.

“Saat ini , terutama jelang Lebaran, masyarakat resah dengan adanya kenaikan harga sejumlah sembako. Para ibu dan pelaku UMKM sudah mengeluhkan hal ini sejak kurang lebih satu pekan terakhir,” kata Inge kepada SPP.com, Kamis (28/4/2022).

Ia menyebutkan, beberapa yang mengalami kenaikan adalah gula pasir naik dari Rp13 ribu per kilogram menjadi Rp 14.500, telur naik dari Rp20 ribu menjadi Rp25 ribu, dan tepung terigu naik dari Rp9 ribu menjadi Rp13.500 per kilogram.

“Tak hanya itu, bahkan beras, ayam, cabai merah dan lainnya pun mulai merangkak naik. Selalu begitu dan tahun ini terasa semakin signifikan. Apalagi, kemarin minyak goreng sempat mengalami kelangkaan dan saat muncul harganya melonjak 100 persen,” tuturnya.

Ketua bidang Ekonomi, UMKM dan Tenaga Kerja, Srikandi Pemuda Pancasila, Inge Bunga Vanda Suprayogi, SE | Foto: Humas SPP

Ia menegaskan kondisi harga yang seperti ini sangat menyulitkan para ibu rumah tangga, apalagi jika tidak ada tambahan pemasukan dan para pelaku UMKM.

“Contohnya sebagai pedagang kue lebaran dan pedagang kripik kentang. Kenaikan harga minyak goreng membuat keuntungan yang biasanya 100 persen per porsi dari harga bahan bakunya kini hanya 50 persen saja. Dari 50 persen ini harus dibagi lagi untuk gas, bayar listrik dan biaya sewa. Paling bisa simpan keuntungan 10 – 15 persen saja. Kalau sebelumnya, saat minyak goreng belum naik para pelaku bisa mendapatkankan 20 – 30 persen,” ungkapnya lagi.

Inge menghimbau pada pemerintah untuk lebih peka pada kondisi Dan kebutuhan masyarakat. Terutama masyarakat kalangan bawah, seperti para UMKM pemula, pedagang kaki lima maupun pedagang kecil lainnya,

“Tolong distabilkan kembali harga minyak gorengnya agar kehidupan bisa lebih sejahtera. Termasuk harga-harga kebutuhan pokok lainnya. Kami mengharapkan pemerintah bisa menyusun langkah strategis dan kebijakan jangka panjang agar tak ada lagi lonjakan harga maupun kelangkaan produk kebutuhan pokok masyarakat. Dan untuk para penimbun minyak goreng, disetiap keserakahan anda, ada jeritan memilukan dari kami yang sangat membutuhkan minyak goreng. Tolong buka hati nurani anda,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.