Pengurus MPN PP: Sila Persatuan Indonesia adalah Konsep Nilai Perilaku Damai

Pengurus MPN PP: Sila Persatuan Indonesia adalah Konsep Nilai Perilaku Damai

90
0

Hampir setiap proses kehidupan demokrasi di Indonesia khususnya menjelang tahapan Kampanye baik Pilkada maupun Pemilihan Umum, selalu diawali dengan kampanye Damai, dengan pernyataan moral politik untuk menjunjung tinggi semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Ada slogan siap kalah siap menang, meskipun pada akhirnya kita saksikan sebagian ada yang kalah masih yakin menang dan yang menang kurang memberi kesejukan dengan eforia berlebihan sehingga memancing amarah pihak pendukung yang kurang unggul.

Mengapa kampanye damai diperlukan di awal karena itulah awal dimulainya perlombaan atau kompetisi. Dalam hal mana perlu pemahaman bahwa setiap yang berlomba pasti ada yang terdepan dan yang tertinggal. Jika kita ibaratkan pertandingan bola, pasti wasit sudah memberikan rambu-rambu pertandingan, salah satu penentunya adalah perolehan jumlah goal yang menembus gawang lawan. Misal jika pihak X meraih 4 goal dan Y meraih 5 goal, maka hasil akhirnya ” Y ” yang unggul dalam pertandingan. Meskipun pihak “X” pemainnya hebat-hebat dan profesional tetapi kalau kalah score pertandingan , ya harus kalah dan sanggup mengakui keunggulan pesaing.

0Inilah makna sederhana siap kalah dan siap menang. Ini juga makna dalam demokrasi agar paham menjaga keseimbangan. Apapun ceritanya bahwa berdemokrasi adalah bagian dari proses politik setiap bangsa.

Politik tanpa ada nilai demokrasi maka yang terjadi TIRANI, oleh sebab itu diperlukan pengaturan lintas agregat kepentingan atau hak rakyatnya yaitu melalui Undang-Undang sehingga mengikat setiap orang yang terlibat dalam.proses demokrasi.

Baik Pilkada maupun Pemilu, core bisnisnya adalah Pemilih. Pemilih adalah orang yang berasal dari beragam status sosial dengan tingkat ekonomi yang berbeda bahkan suku dan agama yang berbeda dsb. Semua unsur perbedaan tersebut terangkum dalam Bhineka Tunggal Ika. Konkretnya dibulatkan dalam Sila ke 3 Pancasila yaitu Persatuan Indonesia.

Artinya, jika kita sudah paham makna bingkai NKRI, maka perbedaan yang ada di antara anak bangsa akan mudah dieleminir. Lantas mengapa saya menggunakan nilai Persatuan Indonesia ? Dan kaitannya dengan Deklarasi Pemilu damai ? Sederhana saja kita berpikirnya bahwa jika kita telah sepakat menempatkan nilai persatuan Indonesia, maka setiap masalah yang timbul dalam proses demokrasi (kampanye), setidaknya harus kita sadari kepentingan bangsa lebih besar dari kepentingan pribadi atau kelompok pun golongan. Sebab jika kita balik, persatuan Indonesia itu ada karena anak bangsa hidup damai dan dibalik lagi, damai itu akan nemperkuat nilai persatuan Indonesia.

Inilah makna dasar perlunya kita memahami sila ke 3 Pancasila agar tetap damai bangsa ini. Aspek sosiopolitik yang perlu dipahami dari makna kampanye damai adalah konsistensi moral.politik dari partai politik dan calon yang diusulkannya. alasannya, bahwa yang kampanye adalah “orang Indonesia” dan sasaran yang akan dipengaruhi “juga orang Indonesia”. Namun situasi pengaruh dan mempengaruhi tersebut jika salah kelola dapat menciptakan situasi gaduh yang bermuara tidak damai. Ini juga alasan pentingnya deklarasi pemilu damai.

Pertanyaan akhir, siapa yang bertanggungjawab agar ada perilaku damai ? Jawabannya tanggungjawab segenap elemen masyarakat, sebab nilai persatuan Indonesia adalah bagian sila ke 3 Pancasila. Jika kita urut darimana dimulai terciptanya perilaku damai yaitu wasit dalam pemilu ( KPU, BAWASLU dan DKPP) , para peserta pemilu (legislatif dan presiden dan wakil presiden) dan para pemilih (sesuai daftar DPT).

Kesimpulannya, ketiga unsur harus bersinerji dan tetap konsisten dengan moral politik             (antara ucapan dan perbuatan seirama) dan berdiri dengan tegap sesuai aturan. Agar situasi damai, harus saling menghormati dan tidak berujar kebencian dan tidak menyebarkan berita HOAKS, serta tidak membenturkan isu SARA.

Bangun Sitohang, Fungsionaris MPN PP bidang Idiologi, Politik dan Pemerintahan  dan Kandidat Doktor Universitas Negeri Jakarta

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY