Perempuan Paling Terkena

Perempuan Paling Terkena

50
0

PROSES demoralisasi pada anak usia dini lewat media digital ini memang terbilang tak kentara. Namun dampaknya akan begitu terasa ketika masyarakat melihat cermat perkembangan anak. Melalui berbagai konten visual ataupun audio visual, berbagai pengaruh media digital termasuk yang berisi berbagai hal negatif dan tak layak untuk anak bisa cepat terpapar.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Penanganan dan Perlindungan Korban Kekerasan Berbasis Gender dan Anak (PPT-PKBGA) Kabupaten Banyumas, Tri Wuryaningsih, mengatakan demoralisasi anak ini juga bisa menjadi pemicu eksploitasi hingga kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak. Padahal paparan berbagai konten tak pantas ini sering dianggap biasa oleh masyarakat.

”Contohnya lewat peredaran lagu berisi lirik hingga tampilan tak pantas. Meski Komisi Penyiaran telah memberikan teguran, namun di lapangan masih banyak beredar konten lagu yang tak pantas bagi anak dan masyarakat,” katanya.

Dicontohkan Tri Wuryaningsih, di wilayah pedesaan, kerap terdengar dan diputar lagu-lagu yang mengarah pada kecabulan di lokasi hajatan di kampung atau desa. Selain itu, ada pula biduan yang menyanyikannya, padahal di antara penonton banyak anak di bawah umur. .

Terkait hal itulah, dosen Jurusan Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto ini mendorong semua pihak harus turun berperan aktif dalam menghadapi permasalahan ini. Terlebih lagi di media digital berbagai tulisan, tayangan, hingga siaran yang ditampilkan sering megeksploitasi tubuh perempuan hingga anak.

”Literasi media bagi anak harus diberikan. Makanya orang tua harus jeli dan cerdas ketika berhadapan dengan teknologi informasi. Apalagi saat ini anak-anak pandai pegang ponsel android dan bisa membuka apapun, makanya sangat rawan terpapar berbagai konten yang tak pantas dan seharusnya diterima mereka,î tegas perempuan yang konsern ke masalah gender, perempuan dan anak ini.

Tri Wuryaningsih juga prihatin karena hingga saat ini angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Banyumas masih cukup tinggi. Pihaknya terus meghimpun dan menindaklanjuti laporan dari masyarakat terkait jeluar litigasi (hukum) ataupun non litigasi berupa konseling dan mediasi antara pelaku dan keluarga korban.

”Di Banyumas sangat rentan terjadi trafiking, jaringan itu begitu kuat dan melibatkan mafia. Penyebanya, pertama adanya lokalisasi di Baturraden, trennya menyebar hingga wilayah pinggiran karena di sana sudah penuh,” jelas dia. Selain itu, perkembangan hiburan malam di Purwokerto yang terus menggliat juga menjadi salah satufaktor adanya trafiking.

”Perkembangan media dan ketidakpahaman orang tua juga menjadi salah satu penyebabnya,” kata dia. Hal itu diperparah dengan tidak adanya fungsi kontrol dari masyarakat. Masyarakat saat ini dinilai sudah bersifat individualis sehingga tidak memperhatikan masyarakat di sekitarnya. ”Anakanak kita saat ini sangat terancam dari segala sisi,” ujar dia.

Selain itu, faktor ekonomi dinilai turut andil menjadi penyebab berkembangnya kasus trafiking. Untuk memnimalisir potensi-potensi tersebut, menurutnya membutuhkan peran srta dari seluruh elemen masyarakat.

”Untuk mencegah hal itu perlu pencegahan sejak dini, upaya preventif kepada anak-anak dengan penanaman nilai-nilai moral, budi pekerti dan agama sangat penting. Kelemahan-kelemahan itu juga harus ditutup dengan kepedulian seluruh lelemen masyarakat,” katanya.(suaramerdeka.com)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY