Perguruan Tinggi Harus Antisipasi Era Revolusi Industri 4.0

Perguruan Tinggi Harus Antisipasi Era Revolusi Industri 4.0

105
0

PALEMBANG – Perguruan tinggi di Indonesia harus mengantisipasi semakin pesatnya perkembangan teknologi yang terjadi dalam era revolusi industri 4.0. Kurikulum dan metode pendidikan pun harus menyesuaikan dengan iklim bisnis dan industri yang semakin kompetitif dan mengikuti perkembangan teknologi dan informasi.

Demikian dikatakan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Muhammad Hanif Dhakiri saat menjadi keynote speaker dalam acara Seminar Nasional dan Rakernas Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) di Palembang, Sumatera Selatan pada Jumat (9/2/2018).

Dalam seminar Nasional yang bertema : “Mempersiapkan Sumber Daya Manusia Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0” ini hadir pula Gubernur Sumatera Selatan Alex Nurdin, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan serta perwakilan dari Kementerian/Lembaga terkait.

Menurut Hanif, perubahan yang terjadi dalam era revolusi industri juga berpengaruh pada karakter pekerjaan sehingga keterampilan yang diperlukan juga berubah.

“Tantangan yang kita hadapi adalah bagaimana mempersiapkan dan memetakan angkatan kerja dari lulusan pendidikan dalam menghadapi revolusi industri 4.0,” ujar Hanif.

Dijelaskannya, dunia kerja di era revolusi industri 4.0. merupakan integrasi pemanfaatan internet dengan lini produksi di dunia industri yang memanfaatkan kecanggihan teknologi dan informasi.

Karakteristik revolusi industri 4.0 ini meliputi digitalisasi, optimalisasi dan kustomisasi produksi, otomasi dan adapsi, human machine interaction, value added services and businesses, automatic data exchange and communication, dan penggunaan teknologi internet.
“Pola industri baru ini membawa dampak terciptanya jabatan dan keterampilan kerja baru dan hilangnya beberapa jabatan. Industri yang akan banyak berkembang pada revolusi industry baru ini,” jelas Hanif.

Tantangan tersebut, lanjut Hanif, harus dapat diantisipasi melalui transformasi pasar kerja Indonesia dengan mempertimbangkan perubahan iklim bisnis dan industri, perubahan jabatan dan kebutuhan ketrampilan.
“Salah satu faktor yang penting adalah ketrampilan dan kompetensi yang harus tetap secara konsisten perlu ditingkatkan sesuai kebutuhan pasar kerja yang semakin berkembang pesat,” imbuh Hanif.

Oleh karena itu, Hanif menambahkan dunia pendidikan dan dunia Industri harus dapat mengembangkan Industrial transformation strategy dengan mempertimbangkan perkembangan sektor ketenagakerjaan karena transformasi industri akan berhasil dengan adanya tenaga kerja yang kompeten.

Berbicara masalah peningkatan kualitas SDM Indonesia, Hanif menjelaskan ada 3 hal yang yang perlu diperhatikan semua pihak.

Yang pertama adalah kualitas SDM. Yaitu bagaimana memastikan agar kualitas dari SDM kita ini sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, sesuai dengan industri yang berbasis teknologi digital.

Yang kedua, kata Hanif adalah masalah kuantitas yaitu jumlahnya pekerja atau SDM yang berkualitas dan kompeten serta sesuai kebutuhan industri Yang ketiga lokasi yaitu masih kurang meratanya sebaran SDM yang berkualitas terutama di daerah-daerah.
“Terkait dengan peningkatan kompetensi dan produktivitas tenaga kerja, saya ingin menekankan pentingnya masifikasi pelatihan kerja dan setifikasi profesi yang sedang dilakukan pemerintah melalui pelatihan kerja di BLK dan program pemagangan,” pungkas Hanif (Azr)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY