Seminar di Ende, Profesor Carey Mengulas Perempuan-Perempuan Perkasa

Seminar di Ende, Profesor Carey Mengulas Perempuan-Perempuan Perkasa

85
0

Ende, Vox NTT-Berbicara mengenai keperkasaan kaum perempuan bukan hal baru bagi Profesor Peter Carey. Ternyata, ia selalu berbicara pada setiap pertemuan ilmiah dalam hal sejarah.

Bahkan, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini telah menulis buku tentang “Perempuan-Perempuan Perkasa pada Abad ke-XVII sampai Abad ke-XIX.

Dalam Seminar Nasional oleh Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Flores di Aula Mgr. Abdon Longginus Mautapaga Ende, Sabtu (5/5/2018), deretan perempuan perkasa pada zaman itu disebut Ceray.

Sejarawan asal Inggris ini menjelaskan, perempuan priayi dan perempuan asal keluarga keraton di Jawa Tengah sampai akhir Perang Jawa (1825-1830), setidaknya pernah menikmati kesempatan bertindak atau mengambil inisiatif pribadi sebelum akhir abad ke-XIX. Itu terjadi di zaman Raden Ajeng Kartini (1879-1904).

Jejak perempuan zaman itu bahkan menembus bidang yang dianggap sebagai dunia laki-laki yaitu militer dan politik.

Carey menjelaskan, pada bidang bisnis pun mereka mengambil peran penting. Itu nampak pada sosok Ratu Kencono Wulan (1780-1859), Permaisuri ketiga Sultan Hamengku Buwono II.

Ia menyebutkan, Ratu Wulan berasal dari keluarga lapisan bawah dan diduga sebagai pemilik kios di Pasar Beringharjo. Sang Ratu juga menjelma menjadi seorang first lady yang luar biasa rakus dan meminta sebagian dari keuntungan proyek yang dilakukan oleh keraton.

Peneliti Pangeran Diponegoro ini menjelaskan, sejarah perempuan di Jawa tidak seperti yang digambarkan dalam sastra Hindia Belanda.

Perempuan Jawa dalah perempuan yang memiliki kemampuan untuk sejajar dengan lelaki. Pandangan Jawa tentang perempuan yang sudah terbukti ini seharusnya tetap dipelihara sehingga peran perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tetap langgeng.

Dalam pengamatan Carey, tindakan Presiden Joko Widodo untuk menempatkan perempuan dalam kabinet untuk mengurus hal-hal besar perlu diapresiasi.

Carey pun berharap bahwa keteladanan perempuan-perempuan perkasa di abad XVII-XIX bisa diteruskan oleh perempuan di abad XXI.

“Referensi ini mesti dijadikan kekuatan oleh bangsa Indonesia. Saya selalu katakan bahwa tanpa perempuan perkasa tidak akan ada laki-laki perkasa,” katanya, diakhir materi Perempuan Perkasa Indonesia. (voxntt.com)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY